ADA APA DENGAN SKRIPSI ??!

29/02/2012 at 8:25 am (Aku, Kamu dan Mereka)

SKRIPSI merupakan suatu istilah untuk tugas akhir mahasiswa agar mendapatkan gelar Sarjana nya, entah dari mana isitilah itu datangnya dan dari mana awal mulanya serta oleh siapa diadakannya? Bukan lah sesuatu yang tidak penting untuk dibahas namun ada yang lebih penting dari arti istilahnya. Yaa untuk lebih jelasnya bagi mahasiswa tingkat akhir akan lebih mengenal dan merasakan secara langsung.

Disini lah awal mulanya langkah yang kecil-kecil seorang mahasiswa yang akan memantapkannya ke dunia nyata dalam artian kuliah bukan sesuatu yang maya namun kuliah hanya lah sebagian kecil dari kehidupan sebagai makhluk yang berketuhanan yang Maha Esa serta makhluk sosial. Dalam perkuliahanlah pembelajaran itu dimulai untuk menjadi manusia yang bernilai dan dewasa baik dari keilmuannya, organisasinya maupuan pengaplikasiannya terhadap masyarakat. Selain itu bagi saya sendiri kuliah hanyalah suatu membentuk pola pikir dan sikap mental serta selebihnya membentuk keahlian yang akan kita tuju sesuai bidang yang akan kita capai dalam berkarir.

Yaa begini lah mahasiswa tingkat akhir dituntut harus mengambil SKS yang namanya SKRIPSI karena tuntutan orang tua (“Aa kapan lulus? Ayeuna the kan tos tingkat akhir?sok atuh enggal-enggal lulus biar cepet dapet kerja” *Pertanyaan seorang bapak kepada anaknya dalam bahasa sunda) dan mungkin tuntutan orang-orang sekeliling kita baik itu teman sekelas sendiri yang mungkin karena terlalu pintar dan rajin yang sesegera mungkin sudah mengambil SKS ini lebih awal ketika semester 7 dan lebih cepatnya akhir semester 7 sudah maju untuk seminar UP alias Seminar USULAN PENELITIAN. Syukur-syukur Alhamdulillah tuntutan itu kita bisa jalani dengan tidak ada beban SKS lain yang harus diambil dalam artian “mengulang kuliah” ya ketika itu terjadi mau tidak mau harus dijalani demi kebaikan nilai akhir kita dalam ijazahkan. Apapun itu dan apapun yang terjadi terhadap SKS yang nama nya skripsi harus lah dijalani.. karena SKS ini memang TUNTUTAN.

Tuntutan itu pun tidak selesai sampai hanya mengambil mata kuliah ini yang pasti harus dijalani dan yang mungkin segala godaan baik itu ingin liburan atau bermalas-malasan, GALAU *menurut mahasiswa sekarang baik akibat data, judul, sang pencerah belum kunjung tiba sampai segala aspek teknis administrasi alias TANDA TANGAN sana sini untuk mendapat Acc atau pun Surat resmi jenis apapun. Mungkin inilah yang namanya suatu HAMBATAN sekaligus TANTANGAN Skripsi. Ketika hambatan datang itu banyak pilihan dalam otak kiri dan kanan “Ayo mas lanjutkan semangat-semangat insya Allah beres, masa udeh nyerah aja” eh si otak satu lagi “Udah mas besok lagi aje, sekarang mah download film aja yang banyak nonton dulu yang seger-seger atau nggosip dulu ke banyak obrolan ni”.

Hadeeeeuh disini lah Tantangan itu akan muncul karena kondisi kita emang dalam keadaan GALAU yang pasti mah kegelisahan akan menjadi jadi sampai titik terrendah kebingungan itu terdapat, sampai terlahir kembali pikiran-pikiran cerah itu dengan semangat ’45 yang siap berjuang dengan harap-harap cemas “menunggu”. Tantangan nya pun  beragam loh, kenapa tidak?Ketika kondisi kita yang hanya SKS skripsi otomatis kita harus memfokuskan waktu tenaga dan pikiran ke arah sana namun dalam sisi lain waktu kita ternyata memang dalam keadaan yang sangat luang dan sangat dimungkinkan Tuntutan skripsi ini akan menjadi malas akibat hambatan-hambatan tadi. Eh ketika waktu luang itu di pakai liburan dan segala macam hiburan tetap saja beban tuntutan tadi masih ada di otak. So?Bagaimana kita menyikapinya? Yaa itu lah yang namanya semangat benar-benar harus dijaga dan selebihnya terserah anda.

Dalam tuntutan SKS skripsi ini mulai lah dengan yang namanya RMUP alias pengajuan judul ke dosen wali dan acc Kepala Laboratorium dan penunjukan pembimbing oleh PD 1, disini aja berbagai administrasi dan revisi harus dilalui. Eh masuk masuk ke UP galau lagi dah dengan namanya PENDAHULUAN, TIPUS dan BAHAN METODE serta DAFTAR PUSTAKA dalam artian Bab 1 2 dan 3 serta Dapus. Segala kericuhan dalam otaak muter muter harus bagaimana posisi dan alur cerita dalam penulisannya. Udah beres tuh yang nama nya draft yang harus di kasi ke kedua pembimbing dan disini lah waktunya menunggu sampai beres direvisi, ketemu-ketemu bimbingan dengan panjang lebar dan revisian yang banyak belum tentu ngerti dengan apa yang dimaksud tapi harus tetep ngbenerin tuh yang namanya DRAFT ! biar bisa masuk yang namanya SEMINAR USULAN PENELITIAN dengan berbagai administrasi dan birokrasinya. Setelah beberapa kali bimbingan hari ini tanggal tanggal 23 Februari 2012 draft pun di ACC. Bukannya tidak senang tapi malah bingung sendiri dengan keadaan..OTAK berkata “emang udah siap?” “mau ngapain di Seminar UP?” hadeuh harus mantapkan segala sesuatunya biar ga blahbloh men ! galau-galau tapi pasti ada jalan, bingung dengan keadaan cari keadaan yang tidak membingungkan. Kondisi/keadaan yang tau hanya kita, so kita sendiri yang mengatur keadaan sendiri bukan keadaan yang mengatur kita. Allah pasti memberi jalan atas jalan yang kita udah tempuh ya klo g ke kanan pasti ke kiri atau ga tinggal lurus aja, gampangkan?!

Perjalanan kali ini masih panjang coy, tetep semangat ngejalaninnya OK. Mau pilih MEI, AGUSTUS NOVEMBER ATAU FEBRUARI tahun depan itu terserah bagaimana menyikapinya dan menjalani. Yang pasti ALLAH akan memberikan jalan setiap apa yang kita inginkan dan yang kita butuhkan. Aamiin selalu berdoa, berusaha dan tersenyum. :)

SEE YOU GRADUATION !

Permalink Leave a Comment

CATATAN PROSES RMUP

29/12/2011 at 6:52 am (ILMU KELAUTAN UNPAD)

Sedikit menshare proses untuk pengajuan Rencana Mengenai Usulan Penelitian(RMUP). Disini ada 4 format/kertas antara lain

1. Surat Penunjukan pembimbing

2. Surat Pengajuann Pembimbing

3. Format RMUP

4. Surat yang diisi Kepala Laboratorium

Surat/Format RMUP ini bisa didapat di SBA FPIK yang diurus Pak Iyos. Mungkin beliau akan menjadi orang sangat dibutuhkan saat menjadi mahasiswa tingkat akhir skripsian. mangga rada kenalan dan memperkenalkan diri heula.

untuk prosesnya sendiri memulai dengan mendapatkan formatnya, kemudian memulai dengan format RMUPnya(kertas ke-3)yang akan diajukan ke dosen wali. Kemudian apabila disetujui dan ditanda tangan dosen wali terus diajukan ke Kepala Laboratorium (Lab ITK). Setelah disetujui dan memberikan arahan solusi serta masukan untuk dosen pembimbing dan penelaahnya (masing-masing rekomendasi 3 dosen), kepala Lab akan mengisi (kertas ke-4) sebagai catatan utuk surat pengajuan pembimbing(kertas ke-2). Setelah Surat Pengajuan pembimbing ini diisi sesuai rekomendasi kepala Lab kemudian harus ditanda tangan dosen wali. yaa kesannya capee tapi ini yang terakhir setelah semuanya selesai berkas-berkas tersebut diajukan ke PD 1 dan staf (Bu zaidah atau Bu Rosidah) untuk pembuatan surat penunjukan Pembimbing dan penelaah (kertas ke-1) yang disetujui. Sudah beres Suratnya tinggal dikasi ke Dosen pembing dan penelaahnya. Wilujeng skripsian we ka sadayana. Mugi-mugi dimudahkeun sagalana.aamiin

Semoga bermanfaat.
JALESVEVA JAYAMAHE !!!

Permalink Leave a Comment

KAOS OBLONK JAWA BARAT

04/12/2011 at 4:33 pm (ILMU KELAUTAN UNPAD)

studentsxCEO

Permalink Leave a Comment

IDENTIFIKASI FORAMINIFERA PLANKTONIK MENGGUNAKAN TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI PERAIRAN MALUKU UTARA IDENTIFICATION FORAMINIFERA PLANKTONIC USING GEOGRAPHIC INFORMATION SYSTEM IN NORTH MALUKU

04/12/2011 at 4:27 pm (EKSPLORASI)

IDENTIFIKASI FORAMINIFERA PLANKTONIK MENGGUNAKAN TEKNOLOGI SISTEM 

INFORMASI GEOGRAFIS DI PERAIRAN MALUKU UTARA

IDENTIFICATION FORAMINIFERA PLANKTONIC USING GEOGRAPHIC INFORMATION SYSTEM IN NORTH MALUKU

1) Hendra Surianta, 2)Firman Setiawan, dan 3)Jimmy Khalterz

Program Studi Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran

Telp (022). 87701519; Fax. (022) 87701519

 Email :

 1) sadewa_hendzz@yahoo.co.id, 2) pmanandthemarine@yahoo.com; 3) jimmykalther@yahoo.com                                           

 

ABSTRAK

Foraminifera merupakan kelompok hewan yang sebagian besar hidup di laut. Foraminifera dikenal sebagai indikator untuk mengkarakteristikan lingkungan tertentu dan juga digunakan sebagai penentuan umur dan lingkungan pengendapan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis foraminifera planktonik yang terawetkan dalam sedimen dasar laut beserta pemanfaatan menggunakan teknologi system informasi geografis untuk pemetaan lokasi pengambilan sampel. Metode yang digunakan adalah pengumpulan data mikrofauna khususnya foraminifera planktonik (preparasi, pengamatan dan identifikasi) dan pemanfaatan SIG dengan software Map Info 10. Sampel sedimen yang digunakan sebanyak 5 sampel dari perairan Maluku hasil survey Geomarine III tahun 2010. Hasil identifikasi menunjukan jenis sampel sedimen antara lain pasir lempungan dengan genus yang dominan Neogloboquadrina Dutertrei, Globorotalia Menardii dan Globorotalia Tumida sedangkan untuk Lempungan genus yang dominan Globigerinella Calida pasir lumpuran genus yang dominan Neogloboquadrina Humerosa.

Kata Kunci : Foraminifera, sedimen dan SIG

ABSTRACT

Foraminifera are a group of animals that mostly live in the sea. Foraminifera are known as indicators for and characterize a particular environment is also used as a determination of age and environment of deposition. This study aims to analyze the planktonic foraminifera preserved in seafloor sediments and its utilization using geographic information system technology for mapping the location of sampling. The method used is the collection of data, especially foraminifera planktonic microfauna (preparation, observation and identification) and the utilization of GIS software with Map Info 10. Sediment samples are used as much as 5 samples Maluku waters Geomarine III survey in 2010. The results of sediment samples indicate the type of identification such as lempungan sand the dominant genus Neogloboquadrina Dutertrei, Globorotalia Menardii and Globorotalia Tumida while for the dominant genus Lempungan Globigerinella Calida lumpuran sand dominant genus Neogloboquadrina Humerosa.

Keywords : Foraminifera, sediment and SIG

Diseminar di PIT ISOI VII 2011

Makassar 2011

Permalink Leave a Comment

Gagasan Tertulis SIG Kelautan Unpad

04/12/2011 at 4:13 pm (ILMU KELAUTAN UNPAD)

PKM GT CALON MAPRES

Permalink Leave a Comment

Studi Kasus Enzim dari sumber bahan hayati laut

04/12/2011 at 4:07 pm (BIOTEKNOLOGI LAUT)

Judul Jurnal : “Isolasi dan Identifikasi Bahan Aktif Penyebab Pemancaran Cahaya Pada Bakteri Photobacterium Phosphoreum yang Diisolasi Dari Cumi Laut Jepara Indonesia”

Penulis         : Ratnawulan, Delianis Pringgenis, dan Idam Arif.

 

Resume

Tujuan penelitian mengenai isolasi dan identifikasi bahan aktif penyebab cahaya pada bakteri Photobacterium Phosphoreum yang diisolasi dari cumi laut Jepara Indonesia adalah untuk menyelidiki proses pemancarannya. Pada jurnal tersebut enzim yang dibahas adalah enzim yang dinamakan luciferase yang dihasilkan dari hasil hubungan simbiosa antara cumi-cumi jenis Laligo duvaucelli dengan bakteri Photobacterium Phosphoreum yang hidup di dalamnya. Dimana enzim Luciferase tersebut dapat memancarkan cahaya pada bakteri luminisensinya karena sifat dari enzim ini dapat mengkatalis tiga substrat yaitu flavin mononukleotida tereduksi (FMNH2), molekul oksigen (O2) dan aldehyde rantai panjang (RCOH). Reaksi tersebut membbaskan flavin (FMN), asam lemak rantai panjang (RCOOH) , molekul air (H2O) sambil memancarkan cahaya tampak (hv).

Fenomena bioluminisensi pada bakteri Photobacterium Phophoreum ini dikaji dikarenakan sebagai contoh nanofabrikasi fotonik alamiah yang akan menjadi inspirasi penelitian peralatan optic dan spektroskopik di masa akan datang, untuk monitoring konsentrasi racun di alam dan alat uji yang bioluminisensi yang memakai enzim merupakan pendekatan baru  dalam monitoring lingkungan. Selain itu ketersedian bahan baku yang sanagnt melimpah di perairan Indonesia juga menjadi alasan untuk melakukan isolasi, identifikasi dan karakterisik sifat-sifat fisika dari bahan aktif penyebab pemancaran cahaya pada bakteri Photobacterium Phosphoreum tersebut.

Teknik Isolasi enzim

Isolasi merupakan suatu proses atau cara  untuk memisahkan dan memindahkan mikroba/enzim tertentu dari lingkungannya, sehingga diperoleh kultur murni atau biakan murni. Kultur murni adalah kultur yang sel-sel mikrobanya berasal dari pembelahan satu sel tunggal yang sangat berguna untuk menelaah dan mengindentifikasi mikroorganisme.

Dalam teknik isolasi pada bakteri Photobacterium Phosphoreum diisolasi dari cumi spesifik Indonesia jenis Loligo duvacelli yang dapat dikultur pada medium padat yang terdiri dari 3 g extract Bacto, 5 g peptone-bacto, 15 g agar bacto, 30 g NaCl, 3 ml glycerol kemudian 1 liter air suling dan NaOH secukupnya setelah itu dilanjutkan pada 5 liter medium cair yang terdiri dari 1 liter air suling; 30 g NaCl, 14 g Na2HPO4.7H2O, 2 g KH2PO4, 0,5 g (NH4)2HPO4, 0,2 g MgSO4.7H2O, 3 ml glyserol, 5 g triptone bacto, 5 g ekstrak ragi bacto dan NaOH secukupnya untuk mengatur pH 7.0. untk proses pertumbuhannya dapat diukur secara langsung dengan dengan spektrofotometer. Kemudian bakteri-bakteri diinkubasi pada suhu kamar selama 24 jam hingga terbentuk koloni tunggal yang nantinya akan diinkubasi kembali ke dalam 100 ml media cair selama 20 jam dengan kecepatan 200 rpm. Seiring berjalannya inkubasi secara bersamaan dilakukan sampling pengukuran waktu dimana hasil sampling tersebut ditentukan dengan spektrofotometer UV-Vis (Ultraviolet-Visible) pada panjang gelombang 660nm. Sel dipanen pada kerapatan sel 4×10-9 sel/ml. sampel hasil sampling, disentrifugasi dengan kecepatan putar 6000 rpm selama 30 menit pada suhu 4 0C, agar cairan fermentasi dan supernatannya terpisah. Supernatan dicuci dengan air suling dingin sebanyak tiga kali untuk menghilangkan sisa-sisa media dan sel-sel yang mati. Setiap kali pencucian, dilakukan sentrifugasi dan penimbangan untuk mengetahui berat molekul supernatan yang tertinggal. Kemudian supernatant tersebut disuspensi dalam larutan buffer fosfat 0,05 M pH 7 (sebanyak 1 gram sel basah dalam 5 ml buffer fosfat). Supernatan yang telah disuspensi tersebut dipecah dengan alat sonikasi selama 5 menit dalam keadaan dingin sebanyak 5 kali. Hasil sonikasi diinkubasi kembali selama 1 jam, yang selanjutnya disentrifugasi selama 20 menit pada kecepatan putar 12000 rpm pada 40C. Ekstrak kasar yang diperoleh ditentukan aktivitas dan konsentrasi proteinnya. Setelah itu kemudian mengendapkan protein  yang ada di sample tadi dengan melakukan fraksionasi ammonium sulfat dengan derajat 25-85 %. Penambahan ammonium sulfat dilakukan sambil mengaduk-aduk larutan ekstrak kasar secara perlahan dengan pengaduk magnet pada suhu 4 0C, diamkan selama satu malam agar sempurna pengendapannya dan untuk pemisahan endpan dengan supernatant dilakukan sentrifugasi dengan kecepatan putar 7000 rpm selama 30 menit. Supernatan yang diperoleh ditentukan aktivitas dan konsentrasi proteinnya. Hasil isolasi menggunakan BSA menunjukkan dua pita pada enzim Luciferase pada bakteri Photobacterium Phosphoreum  yang merupakan dua sub unit α dan β dengan berat molekul 41 kD untuk sub unit α dan 38 kD untuk sub unit β.

Teknik Purifikasi atau pemurnian

pemurnian enzim adalah mengisolasi enzim spesifikasi dan ekstra sel “Mentah” (crude) yang mengandung banyak komponen lain. Teknik pemurnian yang dilakukan pada enzim Luciferase pada Bakteri Photobacterium Phosphoreum menggunakan kolom dietilaminoetil cellulosa (DEAE cellulosa) ukuran 2x45cm yang diregenerasi dengan 200 ml larutan NaCl pada konsentrasi 2M. kemudian DEAE cellulosa dicuci dengan 2 liter air suling dingin dan disetimbangkan dengan 2 liter larutan buffer fosfat pada pH 7,0 dan konsentrasi 0,02 M. setelah itu ambil 10 ml sampel enzim Luciferase pada Bakteri Photobacterium Phosphoreum dimasukkan ke kolom dan kemudian dielusi yang fungsinya untuk mengikat enzim pada DEAE cellulose dengan larutan buffer fosfat. Kemudian enzim yang terikat pada kolom dielusi dengan gradien NaCl sebanyak 200 ml dengan konsentrasi 0,5 M dan ditampung dalam fraksi-fraksi dengan kecepatan 1 ml/menit. Untuk mengetahui fraksi-fraksi yang terkandung dalam enzim dapat dilakukan pengukuran serapannya pada panjang gelombang 280 nm, kemudian diuji aktivitas dan konsentrasinya. Apabila fraksi-fraksi ada aktivitasnya kemudian dipekatkan dengan ammonium ulfat pada 40-75 % saturasi. Dalam hal ini juga didapatkan pemurnian tingkat tinggi yang dapat menggunakan gel filtrasi kromatografi Shepadex G-100, seimbangkan dengan 0,35 buffer fosfat pda pH 7. Dan lakukan hal yang sama pada pemurnian di atas.

Dalam pengukuran aktivitas biolumunisensi dilakukan pada kondisi pada 25 0C dimana FMNH2 harus diinjeksi secara cepat. Setiap fraksi-fraksi enzim seperti ekstrak kasar, fraksionasi pada 25-85% saturasi, DEAE cellulosa, gel filtrasi, diuji aktivitasnya sesuai langkah-langkah yang telah dijelaskan. Konsentrasi protein diuji menggunakan metode Lowry, dengan bantuan bovine serum albumin (BSA) sebagai standar. Absorbansi pada 750 nm digunakan sebagai dasar pengujian konsentrasi protein. Untuk mengetahui tingkat kemurnian enzim setelah pemurnian, maka dilakukan elektroforesis Sodium Dodecyl Sulfate Polyacrylamide Gel Electrophoresis (SDS-PAGE). Hasil dari proses pemurnian tersebut menunjukan peningkatan kemurnian terhadap ekstrak kasar sebanyak 1616 kali.

Karakterisasi sifat enzim

Karakterisasi sifat-sifat fisika dari Luciferase pada Bakteri Photobacterium Phosphoreum dilakukan dengan mengukur spektrum serapan (eksitasi) dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis dan spektrum pemancaran cahaya dengan menggunakan spektrofotometer fluorosensi model F-2000.

 

Kesimpulan

Reaksi bioluminisensi terjadi akibat enzim Luciferase pada bakteri Photobacterium Phosphoreum yang diisolasi dari cumi-cumi Jepara Indonesia mengikat substrat-substratnya yaitu FMNH2, O2, dan RCOH. Enzim Luciferase pada bakteri Photobacterium Phosphoreum terdiri dari dua sub unit α dan β dengan berat molekul 41 kD dan 38 kD.

Permalink Leave a Comment

Pengelolaan Sumber Daya Pesisir Dan Laut Kabupaten Indramayu Jawa Barat

04/12/2011 at 4:05 pm (PESISIR)

Laporan Akhir Matakuliah Pengelolaan Pesisir Indramayu

Permalink Leave a Comment

PEMETAAN LUAS KERAPATAN HUTAN MANGROVE SEBAGAI KAWASAN KONSERVASI LAUT DI NUSA LEMBONGAN, BALI MENGGUNAKAN CITRA SATELIT ALOS

04/12/2011 at 3:55 pm (KONSERVASI)

PEMETAAN LUAS KERAPATAN HUTAN MANGROVE SEBAGAI KAWASAN KONSERVASI LAUT DI NUSA LEMBONGAN, BALI MENGGUNAKAN CITRA SATELIT ALOS

Penulis: Firman Setiawan, Abrella Qisthy, Asep Irwan

Universitas Padjadjaran

ABSTRAK

Luas hutan mangrove di seluruh Indonesia diperkirakan sekitar 4,25 juta hektar atau 3,98% dari seluruh luas hutan Indonesia tetapi hanya 2,5 juta dalam keadaan baik( Nontji, 2005). Permasalahan utama yang terjadi saat ini adalah banyaknya hutan mangrove yang mengalami kerusakan atau telah hilang sama sekali karena aktivitas manusia seperti konversi lahan mangrove, penebangan liar, pembangunan di kawasan pesisir dan polusi yang berasal dari daratan. Dalam hal ini pemanfaatan teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG) digunakan untuk memetakan dan menginventarisasi data luas kerapatan hutan mangrove sebagai kawasan konservasi laut. Data citra yang digunakan adalah data citra satelit ALOS di Nusa Lembongan, Bali tahun 2007 dengan menggunakan metode NDVI (Normalized Difference Vegetation Index). Hasil Penelitian ini masih berupa peta tentatif luas kerapatan hutan mangrove di Nusa Lembongan tahun 2007 dengan 5 klasifikasi ; sangat jarang, jarang, sedang, rapat dan sangat rapat. Pada peta tersebut didominasi oleh kelas kerapatan “sedang” dengan luas 736,000 meter2. Tujuan Penelitian ini adalah salah satu metode kajian untuk memetakan kerapatan mangrove di Indonesia sebagai salah satu kawasan konservasi.

Kata Kunci : Mangrove, SIG, ALOS dan  Konservasi.

ABSTRACT

Area of mangrove forests in Indonesia is estimated around 4.25 million hectares or 3.98% of the total forest area of Indonesia but only 2.5 million in good condition (Nontji, 2005). The main problem is happening right now is the number of mangrove forests were damaged or had disappeared altogether due to human activities such as mangrove land conversion, illegal logging, development in coastal areas and pollution coming from the mainland. In this case the use technology of Geographic Information Systems (GIS) is used to map and inventory data density of the mangrove forest area as a marine conservation area. Image data used is the ALOS satellite image data in Nusa Lembongan, Bali in 2007 using NDVI (Normalized Difference Vegetation Index). The result of this research is still a tentative map of area density of mangrove forests in Nusa Lembongan in 2007 with 5 classification; very rare, rare, medium, and meeting very tight. On the map is dominated by density class “being” with an area of 736.000 meter2. The purpose of this study is one method of study to map the density of mangrove in Indonesia as one of the conservation area.

Keywords: Mangrove, GIS, ALOS and Conservation.

Data Selengkapnya PKM AI

Permalink Leave a Comment

Pemanfaatan Gracillaria sp dalam Pembuatan Jelly Drink sebagai Upaya Mensejahterakan Masyarakat Pesisir Brebes Jawa Timur

04/12/2011 at 3:48 pm (PESISIR)

Pemanfaatan Gracillaria sp dalam Pembuatan Jelly Drink sebagai Upaya Mensejahterakan Masyarakat Pesisir Brebes Jawa Timur

 Oleh :

Abrella Qisthy, Firman Setiawan dan Niomi Pridina

 Universitas Padjadjaran

ABSTRAK

Gracilaria sp adalah rumput laut yang termasuk pada kelas alga merah (Rhodophyta). Gracilaria sp. umumnya mengandung agar-agar sebagai hasil metabolisme primernya. Agar-agar diperoleh dengan melakukan ekstraksi rumput laut pada suasana asam setelah diberi perlakuan basa serta diproduksi dan dipasarkan dalam berbagai bentuk, yaitu: agar-agar tepung, agar-agar kertas dan agar-agar batangan(Angkasa et al, 2008). Pada umumnya bahan baku yang digunakan dalam pembuatan jelly drink adalah rumput laut Sargassum sp, namun pada penelitian kali ini memanfaatkan rumput laut Gracilaria sp. yang kualitas rumput laut ini sulit dijadikan jelly drink. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat potensi rumput laut Gracillaria sp. yang akan dijadikan jelly drink dan pemanfaatan yang optimal dari jenis rumput laut tersebut agar dapat memiliki nilai komersil. Rumput laut Gracillaria sp. berasal dari Brebes, Jawa Timur hasil budidaya tambak. Proses pengolahannya dengan pencucian, perendaman, pembilasan, pengeringan, penimbangan(formulasi), sterilisasi, ekstraksi, pengukuran viskositas dan gell strength. Hasil penelitian ini didapat dengan membandingkan antara komposisi jelly drink Gracillaria dengan jelly drink pembanding yang dilihat dari hasil viskositas dan gell strength. Hasil viskositas yang di dapat dari pengukuran Jelly Drink pembanding adalah sebesar 4,0. Sedangkan gell strengthnya adalah 111 (force) dan 7,917 (distance). Sedangkan hasil jelly drink Gracillaria sp.dengan rata-rata viskositas yang didapat sebesar 5,8 dan gell strengtnya yang terdiri dari kekuatan sebesar  108,95 (force) dan jarak sebesar 2,453 (distance). Pengolahan pada penelitian ini tidaklah mudah, masih diperlukan beberapa tahapan dan pengulangan karena hasilnya belum sesuai dengan harapan.

 

Kata kunci : Gracillaria sp., Jelly Drink, viskositas dan gell streng

 

Utilization Gracillaria sp in the Making Jelly Drink as Efforts Prosper Coastal Communities Brebes East Java

By :

Abrella Qisthy, Firman Setiawan and Niomi Pridina

 Universitas Padjadjaran


ABSTRACT

Gracilaria sp is a seaweed including to the class of red algae (Rhodophyta). Gracilaria sp. usually contain gel  as a result of primary metabolism. Gell  is obtained with seaweed extract in acid and alkaline treatment after being produced and marketed in various forms, namely: jelly powder, jelly gelatin paper and bullion (Angkasa et al, 2008). In general, the raw materials used in the manufacture of jelly drink is seaweed Sargassum sp, but this time on researchutilizing seaweed Gracilaria sp. that quality is hard to be seaweed jelly drinks. The purpose of this study was to see the potential of seaweed Gracillaria sp. which will become jelly drinks and optimal utilization of this type of seaweed in order to have commercial value. Gracillaria sp. Seaweed came from Brebes, East Java, the result of aquaculture. The production is begun by washing, soaking, rinsing, drying, weighing (formulation), sterilization, extraction, measurement of viscosity and Gell strength. The results of this study are obtained by comparing the composition of the jelly drink jellydrink Gracillaria comparison with that seen from the results of viscosity and Gellstrength. Results of viscosity in the can of Jelly Drink comparative measurements amounted to 4.0. While Gell strength is a 111 (force) and 7.917 (distance). While the jelly drink Gracillaria sp.with  average viscosity obtained by 5.8 and Gell strength consisting of the strength of 108.95 (force) and the distance of 2.453(distance). Processing of this research is not easy, still required several steps and repetition because the results are not in line with expectations.

 Keywords: Gracillaria sp., Jelly Drink, viscosity and Gell strength.

 

Data Selengkapnya PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA-ARTIKEL ILMIAH

Permalink Leave a Comment

Renewable Energy Development with Identification Velocity of Indonesia Trough Flow in Eastern Indonesia

04/12/2011 at 3:41 pm (OSEANOGRAFI)

Renewable Energy Development with Identification Velocity of Indonesia Trough Flow in Eastern Indonesia

 Firman Setiawan, Enjang Hernandhy and Abrella Qisthy

Undergraduets of Padjadjaran University, Faculty of Fisheries and Marine Science, Indonesia

Email : pmanandthemarine@yahoo.com

 Abstract

One effort to reduce dependence on energy resources derived from fossil as well as an effort to provide solutions to the problems above as well as to reduce the impact of global warming is to develop renewable energy sources. One of the great potential energy source is the energy of ocean currents, Indonesia passed a very unique flow that is known by Indonesia Trough Flow (ITF / Arlindo).

Indonesia Trough Flow, which has a current strength values in each path that has the potential to meet electricity demand in Indonesia. ITF is a system in Indonesian waters where there is current path that carries the water masses from the Pacific Ocean to the Indian Ocean. Pacific water mass consists of water masses of North Pacific and the South Pacific. Trough Flow path with the path of Indonesia (ITF/Arlindo), there are several provinces that targeted the development of energy used as the location of ocean currents that pass by ITF including West Nusa Tenggara, East Nusa Tenggara, Maluku, North Maluku and North Sulawesi. The average value of current for 3 years (2004-2006) at Sea Makassar where the average is 11.6 Sv, 2.6 Sv Lombok Sea, Halmahera Sea (Lifamatola) 1.1 Sv, 4.9 Sv and Ombai Sea Timor Sea 7.5 Sv. The values of these currents when we convert it into units of Watts will produce a very large energy, where electricity demand in Indonesia or the world will be fulfilled.

Keyword: Renewable energy, Arlindo, demand for electricity

Data selengkapnya

versi Inggris

versi Indonesia

Dilombakan pada “Technology Cooperation and Economic Benefit of Reduction of GHG Emissions in Germany

Hamburg, 1st and 2nd November 2010″

Permalink Leave a Comment

Next page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.