I’m Worker But I’m Thinker#2 (I can bring my dreams)

Hallo Kawan ! How are you ?so I’m sorry, sudah lama tak berjumpa dalam rangkaian kata-kata yang mungkin tidak seindah apa yang ada dalam pikiran dan tak sebagus apa yang dilihat. Ibarat hanya meluapkan kerinduan ini pada setitik buah pikir yang ingin dikeluarkannya. Mungkin bukan berisi sesuatu pesan bukan pula berisi sebuah karangan cerita ataupun puisi. Bisa disebut sisi lain dari sebuah impian akan realita yang terkadang terlihat abu-abu, terkadang hijau dan terkadang merah. Yaaa bisa dibilang sih begitu…

Berbicara soal impian pasti setiap orang punya impian nya masing-masing, bahkan bermimpi itu terkadang langkah awal kita untuk melangkah dalam mencapai apa yang kita inginkan. Bayangkan klo aja untuk bermimpi aja sudah susah apa lagi berpikir untuk melakukan sesuatu apa yang kita inginkan?! Kawan kalaukah harus memilih menjadi seorang anak kecil atau seorang dewasa, apa yang akan kawan pilih? Mungkin akan berpikir menjadi anak kecil akan lebih menyenangkan ketimbang orang dewasa, betul? yaa sudah jelas bahwa ketika menjadi seorang anak kecil kita akan senantiasa bebas bermimpi dengan tingkah laku, kebebasan berpikir, dan pola kekananak-kanakan untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan tanpa harus bersusah payah karena menjadi seorang anak kecil itu tak kan pernah memikirkan apa masalah yang akan dihadapinya. So, kenapa tidak memilih menjadi orang dewasa? karena menjadi orang dewasa itu katanya “menyenangkan tapi susah dijalani”. hehehe Begitu lah keadaanya kawan, walau saya sendiri masih bisa dikatakan ABABIL kalau menurut tata bahasa tahun 2013 mah.hahaha

Ya tentunya saya akan memilih seorang dewasa yang memiliki mimpi-mimpi untuk dapat berjalan ditanah dan bumi yang sedang berputar dengan cepatnya, yang entah kapan akan berhenti. Walaupun terkadang mimpi-mimpi itu tidak selamanya bisa tergapai dan bahkan sebelum mimpi dan harapan pun bisa terhenti sebelum genderang perang itu dikibarkan.”itu sedikit menyakitkan kawan!”

So bermimpi itu jangan pernah nanggung, setinggi-tingginya karena gkan pernah rugi. Ada yang bilang ketika kita bermimpi setinggi-tingginya walaupun kita g sampai 100% ketinggian itu, minimal 95% nya kita mencapai sudah bisa dikatakan mimpi kita tercapai. Yaa bandingkan aja kalao kita hanya bermimpi rendah 50% dari rentang 100%, yaa ketika itu tidak tercapai hanya mampu dapat dibawahnya kan.

Let’s Dreams Let’s Do it

“Tahu kah anda bedanya antara mimpi dan obsesi?Ketika anda bermimpi mungkin anda akan berpikir bagaimana cara nya meraih kesuksesan tersebut sedangkan obsesi adalah bagaimana anda ragu untuk mencapai kesuksesan tersebut”

_Jose Mourinho

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s