DI BALIK CERITA DESA CIJULANG, DUSUN NUSAGEDE DAN NELAYAN

Di saat semua terlelap dalam tidurnya orang-orang ini terus bekerja tanpa lelah menerjang setiap alunan gelombang yang membawa perahunya ke tengah lautan yang luas, dengan membawa perbekalan makanan seadanya, rokok dan perlengkapan untuk menghangatkan tubuhnya. Peralatan-peralatan penangkapan yang masih tradisional jaring tangkap, ember, sterofom, petromak dan batu es, itu semua yang menjadi tumpuan untuk menyambung hidupnya. Kehidupan yang dapat dikatakan sangat keras hanya untuk mendapatakan sesuap nasi hanya demi keluarga tercinta dan menyekolahkan anak-anaknya agar kelak menjadi seorang yang berguna bagi bangsa Indonesia. NELAYAN salah satu profesi/mata pencaharian penduduk Indonesia, profesi yang menjadi ciri sebuah Negara Kepulauan, profesi yang selalu memanfaatkan, melestarikan dan menjaga laut serta perbatasan Negara ini agar kedaulatan bangsa ini terjaga. Profesi yang dapat dikatakan sangat membanggakan.

Gambaran umum di atas menggambarkan sedikitnya kehidupan nelayan di Indonesia dan khususnya di Dusun Nusa Gede Desa Cijulang Kecamatan Cijulang Kabupaten Ciamis. Dusun ini disebut kampung nelayan karena sebagian besar penduduk Desa Cijulang yang bermata pencaharian nelayan tinggal di sini. Dusun ini berbatasan dengan muara dan sungai Sodong Kopo. Di sana terdapat Kantor Rukun Nelayan, TPI (Tempat Pelelangan Ikan), Sekolah Dasar Negeri 2 Cijulang, sebuah mesjid di belakang Sekolah, pemukiman, persawahan dan sebagainya. Selain itu juga dusun/kampung nelayan ini merupakan jalan masuk Bandara Nusa Wiru  yang menjadi jasa pelayanan penerbangan khususnya Susi Air namun Bandara ini bukan bagian dari Desa Cijulang tapi Desa Kondang Jajar. Apakah kalian tahu tentang cerita Susi Air atau Bu Susi? Mendengar cerita dari warga sekitar bahwa Bu Susi merupakan seorang pendatang, beliau datang ke daerah Pangandaran khususnya Kecamatan Cijulang untuk beradu nasib, mulanya beliau sebagai seorang pengusaha perikanan, lambat laun usahanya berkembang dan terus berkembang hingga usaha perikanannya bisa mencapai pasar Internasional, beliau dapat mengekspor ikan-ikan yang ada di Pangandaran dan sekitarnya ke Singapur, Jepang, Malaysia dan Negara lainnya. Itu semua tak lepas dari bantuan suaminya yang merupakan seorang Bule berkewarganegaraan Australia yang menikahinya sehingga usaha perikanan yang beliau jalani terus berkembang dan maju. Selain itu usahanya merambah ke dunia pelayanan jasa penerbangan yang dikenal dengan Susi Air. Pesawat yang digunakan adalah pesawat yang kecil seperti pesawat untuk ke Pulau-Pulau Kecil. Untuk penerbangan di Bandara Nusa Wiru ini masih mencakup Pangandaran-Bandung dan Pangandaran-Jakarta tapi dengar-dengar dari teman Susi Air ini sudah merambah ke penerbangan untuk pelosok-pelosok pulau kecil. Jadi seiring dengan usaha penerbangan yang lebih menguntungkan, beliau tidak lupa dengan usaha perikanannya yang dapat membantu nelayan-nelayan di sekitar Pangandaran. Setiap ikan-ikan yang sudah dilelangkan di TPI dan terbagi-bagi ke pengusaha pengolahan ikan industry serta orang-orang sekitar untuk dijual di pasar atau konsumsi masyarakat kemudian sisa baik itu banyak maupun sedikit oleh Bu Susi ikan-ikan itu dibeli dengan harga seperti biasa kadang-kadang dilebihkan. Sungguh sangat inspiratif cerita tentang Bu Susi ini, semoga dapat menginspirasi dan memotivasi kita sebagai pemuda penerus bangsa ini. Walau hanya sedikit ceritanya dan kurang lengkap tapi semoga dapat bermanfaat ya.

Tapi dibalik cerita Susi dan keadaan umum Desa ada sesuatu yang menakjubkan KKN di Desa Cijulang ini tepatnya mengenai Dusun Nusa Gede. Sesuatu itu terlihat dari pemandangan yang luar biasa indah di pagi hari, matahari yang mulai terbit menghangatkan suasana, nelayan-nelayan yang pulang melaut, anak-anak sekolah yang saling berlarian, maen bola dan ketentraman sangat terasa nyaman dengan lambaian pohon-pohon menjulang yang meneduhkan serta angin yang menyejukan hati di sekitar perahu nelayan bersandar. Tak lupa pohon-pohon mangrove dan nypah yang menjadi green belt pemukiman di sekitar sungai dan muara itu tumbuh dengan baik menghiasi keindahan sungai yang membentang. Terkadang sungai berwarna aga kehijauan dan banyak wisatawan lokal maupun mancanegara melintas di Sungai tersebut untuk melihat megahnya kekuasaan ALLAH SWT menciptakan lautan luas. Laut di balik sungai itu masih belum terjamah dan menjadi tempat wisata sehingga terlihat masih alami. Ada juga tambak-tambak udang di belakang pantai setelah pohon-pohon yang menghiasinya. Sempat di sana menjadi daerah wisata dengan adanya Hotel Cijulang Permai namun akibat terlibas habis oleh Tsunami hotel dan daerah wisata tersebut sehingga sampai sekarang belum ada lagi investor yang ingin mengembangkan daerah tersebut menjadi daerah wisata.

Suasana pagi Dusun Nusa Gede

Tak lepas dari keindahan dan kejernihan air laut pantai selatan Ciamis ini ternyata menyimpan sebuah keanehan dan kekhawatiran bagi para nelayan khususnya. Menurut nelayan-nelayan yang ditemui bahwa laut di pantai selatan Kabupaten Ciamis sekitarnya ikannya sedikit walaupun airnya lebih indah dilihat dibanding pantai utara Jawa Barat yang identik dengan lautnya yang sudah kotor coklat tapi masih menghasilkan ikan yang lebih banyak. Apakah ini akibat masih tertinggalnya nelayan-nelayan Pantai Selatan Jawa yang masih mengandalkan insting untuk menangkap ikan, yang tidak menggunakan teknologi dan alat tangkap yang seadanya atau ketidakpercayaan atas informasi yang mereka dapatkan melalui media informasi sekitar dari dinas terkait yang mereka anggap hanya kebohongan. Ini semua merupakan pertanyaan yang besar bagi dunia kelautan dan perikanan, sebuah isu yang sudah menjadi tren topik bahwa nelayan dan masyarakat pesisir masih jauh dari sejahtera. Sungguh sangat miris dan ironi kehidupan bangsa ini, padahal terdiri dari banyaknya pulau-pulau yang berderetan dari Sabang sampai Merauke dengan pulau-pulau kecilnya yang hampir tidak terhitung banyaknya, yang mengaku nenek moyangnya sebagai pelaut dan menyebut sebagai negara maritim tapi kehidupan nelayan dan masyarakat pesisir masih jauh dari kesejahteraan. Pembangunan yang katanya mulai mengarah ke laut namun hanya sebatas angin lalu serta kebijakan-kebijakan yang ada masih belum cukup kuat sehingga masih mengacu pada darat. Bangsa yang indah yang besar dengan pesona luar biasa namun masih menyimpan Pekerjaan Rumah yang banyak untuk rakyatnya khususnya masyarakat pesisir dan nelayan yang seharusnya lebih sejahtera namun jauh dari yang dibayangkan. Sedikit curhatan yang dapat disimpulkan dari beberapa nelayan, tokoh masyarakat, seorang guru dan sedikit coretan tentang ilmu yang didapatkan dari perkuliahan.

nelayan saat bersandar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s