EKOLOGI LAUT TROPIS SEBAGAI PENGENALAN EKOSISTEM BAHARI DI INDONESIA

Daftar Istilah link : http://abrellaqisthy.wordpress.com/2010/04/15/daftar-istilah-resume-ekologi-laut-tropis/

Dimanapun suatu organisme tinggal tidak akan dapat hidup mandiri. Untuk kelangsungan hidupnya, suatu organisme akan bergantung pada kehadiran organisme lain dan sumber daya alam sekitarnya untuk keperluan pangan, pertumbuhan, perlindungan, perkembangbiakan dan sebagainya. Hubungan tersebut adalah hubungan timbal balik antara organism dan lingkungannya.

Ekosistem itu sendiri merupakan satuan fungsional dasar ekologi, bahwa di dalam ekosistem tercakup organisme dan lingkungan abiotik yang satu terhadap yang lain saling mempengaruhi. Ekosistem terdiri dari komponen yang bekerja secara teratur sebagai suatu kesatuan. Ekosistem terbentuk oleh dua komponen utama yaitu komponen biotik dan abiotik seperti: air, udara, tanah, cahaya matahari, suhu, angin, dan kelembapan.

Ekologi merupakan ilmu yang memperlajari tentang ekosistem baik itu interaksi antara organisme dengan lingkungannya dan yang lainnya. Istilah ekologi pertama kali digunakan oleh Haeckel ada tahun 1860-an. Istilah ekologi ini berasal dari bahasa Yunani, oikos yang berarti rumah dan logos yang berarti ilmu. Ekologi bisa diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. Ekologi ini berhubungan dengan materi, energi, dan informasi.

Ekologi sendiri terbagi menjadi 3 apabila dilihat dari variasi produktifitasnya yaitu ekologi laut tropis, ekologi laut  subtropis dan ekologi laut kutub. Negara kita sendiri adalah termasuk kedalam ekologi laut tropis yang mendapat sinar matahari sepanjang tahun sehingga menyebabkan mengalami 2 musim yaitu kemarau dan hujan. Keadaan yang sedemikian ternyata member I keuntungan karena produktifitas konstan terjadi sepanjang tahun. Berbeda dengan laut subtropics yang hanya mengalami produktifitas tinggi pada musim semi. Apalagi laut kutub yang masa produktifitasnya pendek disebabkan oleh sedikitnya cahaya yang diterima pada daerah ini.

Secara alami suatu ekosistem adalah dalam keadaan seimbang. Keseimbangan ini akan terganggu bila ada gangguan dari luar, seperti bencana alam atau campur tangan manusia. Komponen penyusun ekosistem tidak dapat berdiri sendiri, tetapi saling tergantung. Suatu komponen biotik yang ada di dalam ekosistem ditunjang oleh komponen biotik lainnya. Dalam suatu ekosistem selalu terjadi perubahan jumlah populasi tumbuhan, herbivora, dan karnivora (komponen biotik).

Alam akan mengatur ekosistem sedemikian rupa sehingga perbandingan antara jumlah produsen dan konsumen selalu seimbang. Keseimbangan alam (ekosistem) akan terpelihara bila komposisi komponen-komponennya (komponen biotik maupun komponen abiotik) dalam keadaan seimbang. Untuk menjaga keseimbangan pada ekosistem, maka terjadi peristiwa makan dan dimakan. Hal ini bertujuan untuk mengendalikan populasi suatu organisme. Rantai makanan itu sendiri selalu berkaitan dengan 4 hal yaitu antara lain; komponen abiotik, produsen, konsumen, dan dekomposer.

Rantai makanan ini terjadi jika satu jenis produsen dimakan oleh satu jenis konsumen pertama, konsumen pertama dimakan oleh satu jenis konsumen kedua, dan seterusnya. Konsumen yang menjadi pemakan terakhir disebut konsumen puncak. Rantai makanan terjadi di berbagai ekosistem. Di antara rantai makanan tersebut terdapat pengurai, karena pada akhirnya semua makhluk hidup akan mati dan diuraikan oleh dekomposer

Dalam ekologi, seluruh peranan dan fungsi makhluk hidup dalam komunitasnya dinamakan relung atau niche ekologi. Jadi relung ekologi merupakan semua faktor atau unsur yang terdapat dalam habitatnya yang mencakup jenis-jenis organisme yang berperanan, lingkungan, dan tempat tinggal yang sesuai dan spesialisasi populasi organisme yang terdapat dalam komunitas.  Relung ekologi bukan konsep yang sederhana, melainkan konsep yang kompleks yang berkaitan dengan konsep populasi dan komunitas. Relung ekologi merupakan peranan total dari semua makhluk hidup dalam komunitasnya.

Penendalian populasi tergantung pada tempat makhluk hidup berfungsi di habitatnya, bagaimana cara hidup, atau peran ekologi makhluk hidup tersebut. Jadi pada dasarnya makhluk hidup secara alamiah akan memilih habitat dan relung ekologinya sesuai dengan kebutuhannya, dalam arti bertempat tinggal, tumbuh berkembang dan melaksanakan fungsi ekologi pada habitat yang sesuai dengan kondisi lingkungan (misalnya iklim), nutrien, dan interaksi antara makhluk hidup yang ada.

Materi yang menyusun tubuh organisme berasal dari bumi yang merupakan siklus interaksi antara bumi, laut dan udara. Materi itu berupa unsur-unsur terdapat dalam senyawa kimia yang merupakan materi dasar makhluk hidup dan tak hidup. Dalam suatu ekosistem, materi pada setiap tingkat trofik tidak hilang. Materi berupa unsur-unsur penyusun bahan organik tersebut didaur-ulang. Unsur-unsur tersebut masuk ke dalam komponen biotik melalui udara, tanah, dan air. Daur ulang materi tersebut melibatkan makhluk hidup dan batuan (geofisik) sehingga disebut Daur Biogeokimia sehingga kelangsungan hidup di bumi dapat terjaga.

Semua makhluk hidup memerlukan berbagai materi organik dan anorganik. Karbon dioksida dan air diperlukan untuk proses fotosintesis. Nitrogen merupakan komponen penyusun protein dan asam nukleat yang ada di dalam jaringan hidup. Fosfor merupakan unsur penting dalam pembentukan ATP (energi) dan nukleotida. Semua materi yang menyusun tubuh makhluk hidup pada saatnya akan kembali ke alam (atmosfer, air dan tanah), yaitu ketika mahkluk hidup tersebut mati. Tapi yang menjadi catatan penting adalah bahwa rantai makanan tidak akan pernah berhenti walaupun satu makhluk hidup mati. Itulah mengapa siklus seperti nitrogan, oksigen dan karbon dioksida  serta fosfor dapat terus terjadi.

Gas nitrogen banyak terdapat di atmosfer, yaitu 80% dari udara. Daur nitrogen melibatkan semua bagian biosfer. Nitrogen dalam atmosfer harus bereaksi dahulu dengan hydrogen dan oksigen sebelum dapat di asimilasikan oleh tumbuhan, dan tumbuhan kemudian dimakan hewan. Manusia juga ambil andil dalam daur nitrogen melalui penanaman polong-polongan yaitu dapat menambat nitrogen.

Nitrogen yang diikat biasanya dalam bentuk amonia. Amonia diperoleh dari hasil penguraian jaringan yang mati oleh bakteri. Amonia ini akan dinitrifikasi oleh bakteri nitrit, yaitu Nitrosomonas dan Nitrosococcus sehingga menghasilkan nitrat yang akan diserap oleh akar tumbuhan. Selanjutnya oleh bakteri denitrifikan, nitrat diubah menjadi amonia kembali, dan amonia diubah menjadi nitrogen yang dilepaskan ke udara. Dengan cara ini siklus nitrogen akan berulang dalam ekosistem. Dan kemudian nitrogen tersebut digunakan oleh tumbuhan dalam proses fotosintesis, nitrogen yang terdapat dalam senyawa hasil fotosintesis tersebut, sebagai contoh vitamin dan protein dikonsumsi oleh hewan dan manusia. Hewan dan manusia melakukan ekskresi juga membuang nitrogen ke dalam tanah, dan dekomposisinya memasukkan nitrogen ke dalam tanah.

Contoh beberapa mikroorganisme yang terlibat dalam daur nitrogen ialah :

1.Nitrosomanas mengubah amonium menjadi nitrit.
2.Nitrobacter mengubah nitrit menjadi nitrat
3.Rhizobium menambat nitrogen dari udara
4.Bakteri hidup bebas pengikat nitrogen seperti Azotobakter (aerobik) dan Clostridium (anaerobik)
5.Alga biru hijau pengikat nitrogen seperti Anabaena, Nostoc dan anggota-anggota lain dari ordo Nostocales
6.Bakteri ungu pengikat nitrogen seperti Rhodospirillum

Namun yang perlu diketahui walaupun jumlah Nitrogen di alam ini ternyata tidak mampu secara langsung di pergunakan oleh makhlik hidup. Itu karena nitrogen yang terdiri dari berbagai macam bantuknya seperti ammonia (NH3), molekul nitrogen (N2), Nitrogen Oksida (NO), nitrogendioksida (NO2), asm nitrit (HNO2), asam nitrat (HNO3), dll. Perlu ada proses nitrifikasi dulu sebelum makhluk hidup dapat memanfaatkannya seperti yang telah dijelaskan pada paragraf sebelumnya.

Kalau tadi nitrogen adalah komponen dengan jumlah terbesar maka daur oksigen dan karbon dioksida adalah daur terbesar di alam ini walaupun di atmosfer terdapat kandungan CO2 sebanyak 0.03%. Sumber-sumber CO2 di udara berasal dari respirasi manusia dan hewan, erupsi vulkanik, pembakaran batubara, dan asap pabrik. Daur karbon merupakan daur yang paling sempurna di banding daur lainnya. Ini dikarenakan pengembalian bahan-bahan kelingkungan berjalan secepat pengambilannya. Pada umumnya, kecil sekali atau hamper tidak ada perubahab yang permanen tentang penyebaran unsur-unsur dalam berbegai ekosistem. Berbagai daur lainnya mungkin berjalan tidak sempurna, dalam arti kata bahwa sebagian bahan hilang untuk waktu yang lama di beberapa tempat, atau bahan itu tergabung dalam senyawa kimia lain sehingga tidak tersedia bagi organism .

gambar daur karbon

Daur karbon dimulai dengan penambahan karbon dioksida di udara melalui proses fotosintesis oleh tumbuhan menghasilkan karbohidrat. Sebagian dari karbohidrat ini dipakai oleh tumbuhan itu sendiri untuk memperoleh energy dan sementara itu karbon dioksida dilepaskan melalui daun dan akar (pernafasan). Sebagian lagi dari karbohidrat dimakan hewan yang juga bernafas dan melepaskan karbon dioksidake udara.hewan dan tumbuhan yang mati kemudian mengalami dekomposisi, dan Karbondioksida akan kembali ke atmosfer dari penguraian juga melalui sistem respirasi

Di ekosistem air, pertukaran C02 dengan atmosfer berjalan secara tidak langsung. Karbon dioksida berikatan dengan air membentuk asam karbonat yang akan terurai menjadi ion bikarbonat. Bikarbonat adalah sumber karbon bagi alga yang memproduksi makanan untuk diri mereka sendiri dan organisme heterotrof lain. Sebaliknya, saat organisme air berespirasi, CO2 yang mereka keluarkan menjadi bikarbonat. Jumlah bikarbonat dalam air adalah seimbang dengan jumlah C02 di air.

gambar daur fosfor

Fosfor merupakan elemen penting dalam kehidupan karena semua makhluk hidup membutuhkan fosfor dalam bentuk ATP (Adenosin Tri Fosfat), sebagai sumber energi untuk metabolisme sel. Namun daur fosfor ini relative sederhana dan kurang sempurna.Di alam, fosfor terdapat dalam dua bentuk, yaitu senyawa fosfat organik (pada tumbuhan dan hewan) dan senyawa fosfat anorganik (pada air dan tanah). Fosfat organik dari hewan dan tumbuhan yang mati diuraikan oleh dekomposer (pengurai) menjadi fosfat anorganik. Fosfat anorganik ini banyak yang mengalami erosi, bersamaan dengan itu pula fosfat dilepaskan kedalam ekosistem tapi sebagian besar hilang kelaut dan diendapkan di laut. Inilah yang menyebabkan fosfat banyak terdapat di batu karang dan fosil. Fosfat anorganik ini kemudian akan diserap oleh akar tumbuhan lagi. Siklus ini berulang terus menerus. Bakeri yang berperan dalam siklus fosfor : Bacillus, Pesudomonas, Aerobacter aerogenes, Xanthomonas.

Dikawasan tropis, ketersediaan fosfor lebih menonjol di bandingakan daerah beriklim sedang dan dingin. Ini dikarenakan tanah-tanah di daerah tropis sengat sedikit mengandung fosfor. Meskipun demikian, tanah pada daerah tropis tumbuhan dapat tumbuh dengan lebat dan banyak hutan-hutan berpohon besar seperti yang Indonesia miliki.

Negara Indonesia merupakan salah satu wilayah pesisir yang memiliki iklim tropis secara tidak langsung ekologi di perairan Indonesia pun ekologi laut tropis.  Indonesia pun merupakan Negara kepulauan yang memiliki kurang lebih 17.000 pulau dengan panjang  garis pantai 81.000 km dan luas lautan yang sekitar  5,8 km2. Selain itu potensi sumber daya alam lautnya yang beranekaragam antara lain terumbu karang dengan jumlah 600-800 spesies, mangrove dengan jumlah 40 spesies mangrove sejati dari 50 spesies, lamun(seagrass) dengan jumlah 12 spesies dan rumput laut dengan jumlah 56 spesies serta tak kalah banyaknya spesies-spesies ikannya yang setiap tahunnya menyumbang 6,6 juta ton untuk Indonesia.

Untuk itu semua diperlukannya suatu pembangunan dan pengelolaan yang baik agar alam ini mengalami keseimbangan dan pemanfaatan dari sumber daya alam tidak berlebihan serta fungsi dari setiap ekosistem bisa pada tempatnya. Pengelolaan pemanfaatan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan yang terdapat di kawasan pesisir dengan cara melakukan penilaian secara menyeluruh (Comprehensive assessment) biasa kita sebut Integrated Coastal Zone Management.

Pengelolaan pemanfaatan sumber daya alam yang dimaksud disini adalah upaya terpadu untuk melestarikan manfaat dari sumberdaya alam yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan, dan pengendalian terhadap sumberdaya alam dengan tujuan untuk mempertahankan dan atau memperbaiki potensi sumberdaya alam di lingkungan wilayah pesisir.

Potensi sumber daya pembangunan yang terdapat diwilayah pesisir dan lautan secara garis besar dibagi kedalam tiga kelompok besar yaitu; (1) kelompok sumber daya yang dapat pulih (renewable resources); (2) kelompok sumber daya yang tidak dapat pulih (non-renewable resources) dan (3)jasa-jasa lingkungan (environmental services). Yang menjadi masalah disini adalah sampai sejauh mana sumber daya ini telah dimanfaatkan guna kebutuhan manusia.

Sumber daya perairan pesisir yang termasuk dalam kelompok sumber daya yang dapat pulih kembali adalah: (1) hutan mangrove ; (2) terumbu karang; (3) padang lamun dan rumput laut; (4) sumber daya perikanan laut dan (5) bahan-bahan bioaktif yang terkandung dalam tubuh biota perairan laut. Seringkali pengertian sumber daya yang dapat pulih seperti sumberdaya disalah tafsirkan sehingga ekosistem ini mengalami kerusakan, seperti mangrove misalnya terhadap ekosistem ini sering dieksploitasi dan dikonversi secara terus menerus sehingga hutan mangrove ini tidak berfungsi sesuai fungsi sebenarnya. Berikut penjelasan dan pengelolaan yang bisa digunakan dalam pemanfaatan sumberdaya ekosistem mangrove.

Ekosistem mangrove merupakan suatu ekosistem yang tumbuh di antara garis pasang surut. Hutan mangrove ini mempunyai tiga fungsi utama bagi kelestarian sumber daya yakni :

  • Fungsi ekologisnya sebagai peredam gelombang, angin dan badai, penahan abrasi, mencegah terjadinya instrusi air laut dan green belt.
  • Fungsi biologisnya sebagai tempat mencari makan, memijah asuhan dan berkembang biak berbagai jenis organisme, penghasi serasah/zat hara yang cukup tinggi produktivitasnya.
  • Fungsi ekonomisnya sebagai tempat rekreasi (ecotourism), lahan pertamabakan dan penghasil devisa dengan produk bahan baku industry.

Tumbuhan mangrove dapat berkembang pada lingkungan yang buruk, tetapi setiap tumbuhan mangrove mempunyai kemampuan yang berbeda dalam mempertahankan diri terhadap kondisi lingkungan fisik dan kimia dilingkungannya.  Empat faktor utama yang mempengaruhi penyebaran tumbuhan mangrove yaitu: (a) frekuensi arus pasang; (b) salinitas tanah; (c) air tanah; dan (d) suhu air.  Keempat faktor tersebut akan menentukan daerah zonasi mangrove.  Luas dan Penyebaran mangrove di Indonesia disajikan pada Tabel  1.

Berdasarkan tabel di atas maka pengelolaan terhadap wilayah pesisir dan sumberdaya ekosistem mangrove mutlak dilakukan secara baik dan benar (terpadu) guna mencapai pemanfaatan sumberdaya yang berkelanjutan.

Pembangunan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam ekosistem mangrove yang dilakukan merupakan salah satu konsep dari “Pembangunan Berkelanjutan Berwawasan Lingkungan”. Pembangunan yang berkelanjutan akan bertumpu pada tiga faktor: kondisi sumber daya alam, kualitas lingkungan dan faktor kependudukan. Sumberdaya alam yang dapat pulih (renewable resources) ada hutan mangrove, perlu diolah dalam batas kemampuan pemulihannya atau tidak melebihi kemampuan produktivitasnya, sedangkan faktor kependudukan adalah unsur yang menjadi beban atau sebaliknya menjadi unsur yang menimbulkan dinamika dalam proses pembangunan, perlu diubah dari unsur penambah beban menjadi modal pembangunan.

Dalam pembangunan wilayah pesisir yang dinamis terhadap isu dan konflik kepentingan dalam pemanfaatan sumber daya alam, maka pembangunan pesisir perlu dipikirkan khususnya untuk menyelamatkan potensi sumberdaya pesisirnya. Oleh karena itu segenap stakeholder perlu membuat perencanaan pengelolaan sumberdaya sehingga pemanfaatannya seefisien mungkin dan berkesinambungan secara ekonomi dan sosial.

Untuk mengetahui kondisi sumberdaya mangrove diperlukan adanya evaluasi lingkungan, ekonomi (manfaat dan sumberdaya mangrove) dan sosial-ekonomi-budaya.  Dalam proses perencanaan wilayah pesisir ada dua hal penting

1.      Menentukan keadaan yang diinginkan di masa depan

2.      Memikirkan strategi dan tindakan untuk mencapai tindakan tersebut.

Pengelolaan wilayah pesisir merupakan suatu proses atau upaya untuk mengendalikan kegiatan manusia di wilayah pesisir, sehingga dapat menjamin keuntungan yang sebesar-besarnya bagi masyarakat, sekarang dan di masa mendatang. Perhatian dalam pengelolaan wilayah pesisir tidak lain tertuju pada kegiatan manusia di dalam pemanfaatan sumberdaya alam.

Oleh karena itu untuk menyelidiki cara pengelolalan yang baik, sifat ekosistem mangrove yang “dinamis” dan kondisi lingkungan yang “unik” perlu dipahami terlebih dahulu. Adanya kesamaan perspektif tentang tujuan, pola pemanfaatan dan pengelolaan wilayah pesisir ekosistem mangrove merupakan wahana untuk mencapai keuntungan yang sebesar-besarnya bagi masyarakat, dimasa kini dan akan datang.

Dalam hal tersebut  perencanaan dan pengelolalan wilayah pesisir ekosistem mangrove hendaknya dilakukan pada tiga level yaitu teknis, konsultatif dan koordinatif. Pada level teknis segenap pertimbangan teknis, ekonomis, sosial dan lingkungan hendaknya secara proporsional masuk ke dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan sumberdaya pesisir. Pada level konsultatif segenap aspirasi dan kebutuhan pihak stakeholder serta pihak penderita dampak pembangunan sumberdaya tersebut hendaknya diperhatikan. Pada tingkat koordinatif masyarakat perlu bekerjasama dengan semua pihak untuk menuju tujuan bersma yang diinginkan.

Dengan demikian terdapat empat tahap proses perencanaan pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu, yang bisa disebut sebagai “strategi pengelolalan pesisir ekosistem mangrove” meliputi:

1.      Tahap merumuskan visi, misi, tujuan dan sasaran, yang dapat diangkat pada level provinsi.

2.      Tahap perencanaan zonasi, yang merupakan rencana alokasi ruang dan pengendalian penggunaan/pemanfaatan ruang wilayah pesisir

3.      Tahap rencana pengelolaan, yang merupakan petunjuk dan arahan pengelolaan yang terpadu pada kawasan prioritas atau pemanfaatan sumberdaya mangrove secara optimal dan berkelanjutan

4.      Tahap rencana tindak yang merupakan rencana pelaksanaan perumusan program kegiatan pada masing-masing wilayah.

Hutan mangrove yang berperan penting bagi semua kehidupan tersebut ternyata dalam pemanfaatannya sering dilaksanakan dengan kurang bijaksana antara lain disebabkan masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan.  Perubahan ekosistem mangrove yang tak terkendali menjadi tambak, pemukiman, lahan pertanian dan perkebunan,  industri  atau  pelabuhan, merupakan bukti penyebab penurunan lahan mangrove tersebut.

Secara umum hutan mangrove dan ekosistemnya cukup tahan terhadap berbagai gangguan dan tekanan, namun demikian mangrove tersebut sangat peka terhadap sedimentasi, tinggi rata-rata permukaan air, pencucian serta tumpahnya minyak. Permasalahan utama tekanan terhadap habitat mangrove adalah kegiatan manusia dalam mengkonversi hutan bakau untuk berbagai kepentingan seperti untuk perumahan, industri dan pertanian, kayu bakar, pembukaan tambak-tambak budidaya. Tabel 2 memperlihatkan secara ringkas beberapa pedoman pengelolaan hutan mangrove.

Beberapa pedoman pengelolaan hutan mangrove antara lain :

  1. hindari proses-proses sedimentasi berlebihan, erosi, pengendapan yang dapat merubah sifat kimiawi (seperti kesuburan).
  2. Pertahankan pola-pola alamiah seperti aktivitas siklus pasut dari perobahan akibat pola pengembangan. termasuk pola-pola temporal dan spasial alami dari salinitas air permukaan dan air tanah.
  3. Peliharalah keseimbangan alamiah antara pertambahan tanah, erosi dan sedimentasi dengan cara mengevaluasinya secara berkala.
  4. Tetapkanlah batas maksimum total hasil panen yang dapat diproduksi sehingga keberlanjutan sumber dayanya dan ekosistemnya dapat dipertahankan.
  5. Untuk daerah-daerah yang mungkin terkena tumpahan minyak serta bahan beracun lainnya supaya memiliki rencana penaggulangannya.
  6. Hindari semua bentuk kegiatan yang mengakibatkan pengurangan areal mangrove seperti misalnya penghentian sirkulasi air permukaan.

DAFTAR PUSTAKA

Supriharyono.  2000.  Pelestarian dan Pengelolaan Sumberdaya Alam dii Wilayah Pesisir Tropis.  PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

2 thoughts on “EKOLOGI LAUT TROPIS SEBAGAI PENGENALAN EKOSISTEM BAHARI DI INDONESIA

  1. Pingback: Daftar Istilah Resume Ekologi Laut Tropis « bella . .abrella =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s