Renewable Energy Development with Identification Velocity of Indonesia Trough Flow in Eastern Indonesia

Renewable Energy Development with Identification Velocity of Indonesia Trough Flow in Eastern Indonesia

 Firman Setiawan, Enjang Hernandhy and Abrella Qisthy

Undergraduets of Padjadjaran University, Faculty of Fisheries and Marine Science, Indonesia

Email : pmanandthemarine@yahoo.com

 Abstract

One effort to reduce dependence on energy resources derived from fossil as well as an effort to provide solutions to the problems above as well as to reduce the impact of global warming is to develop renewable energy sources. One of the great potential energy source is the energy of ocean currents, Indonesia passed a very unique flow that is known by Indonesia Trough Flow (ITF / Arlindo).

Indonesia Trough Flow, which has a current strength values in each path that has the potential to meet electricity demand in Indonesia. ITF is a system in Indonesian waters where there is current path that carries the water masses from the Pacific Ocean to the Indian Ocean. Pacific water mass consists of water masses of North Pacific and the South Pacific. Trough Flow path with the path of Indonesia (ITF/Arlindo), there are several provinces that targeted the development of energy used as the location of ocean currents that pass by ITF including West Nusa Tenggara, East Nusa Tenggara, Maluku, North Maluku and North Sulawesi. The average value of current for 3 years (2004-2006) at Sea Makassar where the average is 11.6 Sv, 2.6 Sv Lombok Sea, Halmahera Sea (Lifamatola) 1.1 Sv, 4.9 Sv and Ombai Sea Timor Sea 7.5 Sv. The values of these currents when we convert it into units of Watts will produce a very large energy, where electricity demand in Indonesia or the world will be fulfilled.

Keyword: Renewable energy, Arlindo, demand for electricity

Data selengkapnya

versi Inggris

versi Indonesia

Dilombakan pada “Technology Cooperation and Economic Benefit of Reduction of GHG Emissions in Germany

Hamburg, 1st and 2nd November 2010″

KAJIAN ENERGI BARU DARI ARUS LINTAS INDONESIA (ARLINDO) STUDY ABOUT NEW ENERGY FROM INDONESIAN TROUGHFLOW

KAJIAN ENERGI BARU DARI ARUS LINTAS INDONESIA (ARLINDO)

STUDY ABOUT NEW ENERGY FROM INDONESIAN TROUGHFLOW

Noir P. Purba, Firman S, dan Rama Wijaya

Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Universitas Padjadjaran

Email : noaa.phd@unpad.ac.id; Telp (022). 87701519; Fax. (022) 87701519

 Abstrak

Pemenuhan kebutuhan manusia saat ini masih didominasi oleh energi tak terbarukan sebesar 83 % dan akan semakin meningkat dengan pertambahan penduduk. Eksplorasi dan pemakaian energi ini mempunyai banyak masalah seperti bahaya bagi lingkungan dan keterbatasan sumberdaya. Pencarian terhadap energi terbaru sangat diperlukan dan pada saat ini pengidentifikasian didapatkan di wilayah samudra yakni terutama dari arus laut. Prinsip utamanya adalah dengan menggunakan energi kinetik dan mengubahnya menjadi energi listrik. Tantangan yang dihadapi adalah wilayah-wilayah yang mempunyai arus dengan kecepatan tetap dan juga alih teknologi yang sesuai dan murah. Namun, pengembangan energi yang berasal dari samudra ini mutlak diperlukan untuk mendukung pengkayaan energi terbarukan. Arus Lintas Indonesia sendiri merupakan massa air yang mengalir dari samudra Pasifik ke Samudra Hindia yang melalui Perairan Indonesia bagian Timur Indonesia. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kecepatan (ARLINDO) berkisar antara 2-15 Sverdrup (Sv). Penelitian di wilayah selat terutama di Ombai dan selat Timur menunjukkan 5.6-9 Sv. Penelitian ini sendiri berada dalam tahapan pengidentifikasian wilayah-wilayah yang berpotensi mempunyai dinamika arus yang dapat menghasilkan energi terutama untuk wilayah Timur.

Kata Kunci : Energi, Arus Lintas Indonesia, Indonesia bagian Timur

 Abstract

The fulfillment of human needs is still dominated by non-renewable energy by 83% and will increase with the population. Exploration and use of this energy has many problems such as danger to the environment and resource limitations. The search for new energy is needed and at present the identification found in the ocean region that is mainly of ocean currents. The main principle is to use kinetic energy and convert it into electrical energy. The challenge is to areas that have a flow with constant velocity and also the appropriate transfer of technology and cheap. However, the development of the energy coming from the ocean is absolutely necessary to support renewable energy enrichment. Traffic Flow Indonesia itself is a mass of water flowing from the Pacific Ocean to the Indian Ocean through the Indonesian Seas Eastern Indonesia. Several studies have shown that the velocity (Arlindo) ranged from 2-15 Sverdrup (Sv). Research in the region, especially in the Ombai Strait and Eastern Strait showed 5.6-9 Sv. This study itself is in the stage of identifying areas that potentially have a flow dynamics that can produce energy, especially for the East region.

 Keywords : Energy, Indonesian Throughflow, East Region

DATA SELENGKAPNYA DOWNLOAD

Diseminarkan pada acara Seminar Nasional dan Kunjungan Desa Mandiri Energi (DME) dengan tema “Peran Perguruan Tinggi dalam Pengembangan Desa Mandiri Energi (DME)” atas kerjasama LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat) Universitas Jenderal Soedirman dengan METI (Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia)

Analisis Potensi Arus Lintas Indonesia Sebagai Sumber Energi Terbarukan Di Wilayah Kabupaten Halmahera Timur

Analisis Potensi Arus Lintas Indonesia Sebagai Sumber Energi Terbarukan Di Wilayah Kabupaten Halmahera Timur

          Noir P. Purba, Firman S, dan Rama Wijaya

Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Universitas Padjadjaran

Email : rm_wijaya@yahoo.com ; Telp (022). 87701519; Fax. (022) 87701519

 

Abstrak

Pada saat ini ketergantungan manusia akan sumber energi dari fosil sangatlah besar sekitar 83 % dan semakin meningkat seiring pertambahan jumlah penduduk. Sementara itu energi fosil sendiri mempunyai beberapa kendala dan menimbulkan polemik bagi lingkungan dan keterbatasan sumberdaya. Saat ini banyak dilakukan studi mengenai eksplorasi sumber energi terbarukan yang dapat menggantikan energi fosil , yaitu salah satunya energi yang bersal dari samudra yakni terutama dari arus laut. Tantangan yang dihadapi adalah wilayah-wilayah yang mempunyai arus dengan kecepatan tetap dan juga alih teknologi yang sesuai dan murah. Namun, pengembangan energi yang berasal dari samudra ini mutlak diperlukan untuk mendukung pengkayaan energi terbarukan. Arus Lintas Indonesia sendiri merupakan massa air yang mengalir dari samudra Pasifik ke Samudra Hindia yang melalui Perairan Indonesia bagian Timur Indonesia. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa transport massa air (ARLINDO) berkisar antara 2-15 Sverdrup (Sv). Penelitian di wilayah selat terutama di Ombai dan selat Timur menunjukkan 5.6-9 Sv. Penelitian ini sendiri berada dalam tahapan pengidentifikasian wilayah-wilayah yang berpotensi mempunyai dinamika arus yang dapat menghasilkan energi terutama untuk wilayah Timur  tepatnya di Perairan Laut Halmahera yang terletak di Kabupaten Halmahera Timur yang potensinya masih belum diidentifikasi lebih lanjut.

Kata Kunci : Energi, Arus Lintas Indonesia, Indonesia bagian Timur

DATA SELENGKAPNYA DOWNLOAD

DILOMBAKAN DALAM LOMBA YANG DIADAKAN PT. HUTAMA KARYA

STUDY ABOUT ARLINDO PHENOMENON AT SERAM SEA AND THE CORRELATION WITH GLOBAL CLIMATE CHANGE (La Niña and El Niño)

1) Rama Wijaya, 2)Firman Setiawan, dan 3)Shifa Dini Fitriani
Program Studi Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran
Telp (022). 87701519; Fax. (022) 87701519
Email :
1) rm_wijaya@yahoo.com; 2) pmanandthemarine@yahoo.com; 3) shifadini@yahoo.com

ABSTRAK

Fenomena Arlindo menjadi salah satu ciri khas sistem arus di Indonesia. Sistem arus ini mengalir dari Samudera Pasifik menuju Samudera Hindia melalui perairan Indonesia. Keberadaan dan transpor massa air Arlindo yang melewati perairan Indonesia telah dideteksi melalui penelitian yang dilakukan di beberapa wilayah yang menjadi jalur lintasan arus. Dari penelitian yang telah dilakukan didapatkan nilai transpor berkisar 1 – 22 sv (1 sv = 1 sverdrup = 106 m3/det). Nilai transpor massa air ini berbeda-beda tiap lintasan dan bervariasi terhadap musim. Penelitian-penelitian ini banyak terkonsentrasi di lintasan-lintasan utama seperti Selat Makassar, Selat Lombok, Selat Ombai, dan Laut Banda. Dalam karya tulis ini disertakan penelitian mengenai fenomena Arlindo di lintasan timur wilayah Indonesia tepatnya di Laut Seram sebagai penelitian awal melacak keberadaan sistem arus ini dalam upaya nyata berkontribusi dalam bagian sistem pemantauan laut global karena Arlindo merupakan salah satu bagian terpenting dalam sirkulasi samudra dunia dalam penghantaran bahang (heat). Massa air yang terangkut oleh Arlindo dipengaruhi oleh adanya El Nino dan La Nina. Dampak El Nino dan La Nina terhadap kondisi oseanografi di Indonesia masih dalam kajian para ahli. Terdapat beberapa kenyataan yang menunjukkan terjadinya pemutihan karang (coral bleaching) yang terkait dengan El Nino, sehingga diperlukan kajian yang lebih mendalam tentang kondisi oseanografi Indonesia khususnya Arlindo. Kajian yang dilakukan didasarkan pada pengukuran sebaran suhu dan salinitas di laut. Berdasarkan analisis yang dilakukan telah terdeteksi massa air SPSW (South Pacific Subtropical Water) dengan ciri salinitas maksimum di lapisan termoklin sebesar 35.38 psu, dan massa air SPIW (South Pacific Intermediate Water) dengan ciri salinitas minimum di lapisan dalam sebesar 34.32 psu. Sedangkan nilai pendekatan transpor massa air berkisar antara 2.12 – 3.24 Sv dan nilai kecepatan arus berkisar 2-3 m/det di kedalaman 0-100 m.
Kata Kunci : El Nino,La Nina, transpor massa air, dan Arlindo

Abstract

Arlindo phenomenon became one of the characteristics of the current system in Indonesia. Current system that flows from the Pacific Ocean to the Indian Ocean through Indonesian waters. The existence of mass transport and Arlindo water that passes through Indonesian waters have been detected through the research conducted in several areas that became the current paths. From the research that has been done obtained values ​​around 1-22 sv water mass transport (1 sv = 1 sverdrup = 106 m3/sec). This water mass transport value depend on variety of  the pathways and with the seasons. These studies focus on the main path, such as Makassar Strait, Lombok Strait, Ombai Strait, and Banda Sea. In this paper included studies phenomena Arlindo at East Indonesian region in Seram sea for early research to track the current system in real efforts to contribute to the global ocean monitoring system, Arlindo was one of the most important part of the world ocean circulation in the delivery of heat. Water transported via Arlindo affects the existence of El Nino and La Nina. Impact of El Nino and La Nina on the oceanographic conditions in Indonesia are still in research. There are several facts that indicate the presence of coral bleaching associated with El Nino, which requires a further study of the oceanographic conditions in Indonesia, especially Arlindo. This study is based on the measurement of the distribution temperature and salinity in the sea. Based on the analysis has detected the mass of water (South Pacific subtropical water) SPSW with a maximum values salinity in the termocline layer indicate 35.38 psu, and the mass of water SPIW (Pacific South water Intermedia) with a minimum of characteristic salinity in deep layer of 34.32 psu. While the value obtained from indirect calculation mass transport of water is 2.12 – 3.24 Sv and the range of current speed 3.2 m / sec at depths of 0-100 m.

Keywords : El Nino, La Nina, water mass transport, and Arlindo

 KAJIAN FENOMENA ARLINDO DI LAUT SERAM DAN KAITANNYA DENGAN PERUBAHAN IKLIM GLOBAL

Pengaruh dan Hubungan ARLINDO (Arus Lintas Indonesia) dengan Karakteristik massa Air


Masih ingatkah kita sewaktu SD sampai SMA pada pelajaran geografi selalu dicekoki dengan doktrin keistimewaan posisi geografis Indonesia yang diapit dua benua besar yaitu Benua Asia dan Benua Australia.Selain itu diapit dua Lautan besar yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Posisi Indonesia juga terletak di antara garis ekuator yang memiliki iklim tropis dan radiasi matahari paling banyak diserap. Selain itu juga perairan Indonesia ini sangat unik karena adanya arus lintas Indonesia (ARLINDO) atau Indonesian througflow. Ini merupakan keistimewaan sendiri karena arus laut Indonesia ini sebagai pertukaran antar samudera. Secara lengkap dan pengaruh-pengaruhnya akan dijelaskan sebagai berikutnya.

Arlindo adalah suatu sistem di perairan Indonesia di mana terjadi lintasan arus yang membawa massa air dari Lautan Pasifik ke Lautan Hindia. Massa air Pasifik tersebut terdiri atas massa air Pasifik Utara dan Pasifik Selatan (Wyrtki, 1961; Fieux et al., 1996a).  Terjadinya arlindo terutama disebabkan oleh bertiupnya angin pasat tenggara di bagian selatan Pasifik dari wilayah Indonesia.  Angin tersebut mengakibatkan permukaan bagian tropik Lautan Pasifik Barat lebih tinggi dari pada Lautan Hindia bagian timur.  Hasilnya terjadinya gradien tekanan yang mengakibatkan mengalirnya arus dari Lautan Pasifik ke Lautan Hindia.  Arus lintas Indonesia selama Muson Tenggara umumnya lebih kuat dari pada di Muson Barat Laut. Webster et al. (1998) menyatakan bahwa aliran bahang Arlindo’…adalah dapat dibandingkan terhadap aliran bersih permukaan di utara samudra Hindia dan sejumlah fraksi substansial dari aliran bahangnya’. Beberapa hasil model penelitian mengungkapkan ketergantungan suhu permukaan dan simpanan bahang permukaan samudra Pasifik dan Hindia terhadap arus lintas ini. Kedua samudra tersebut akan sangat berbeda jika tanpa Arlindo (MacDonald, 1993). Ketiadaan Arlindo akan meningkatkan permukaan laut di Pasifik dan menurunkannya di Hindia sebanyak 2-10 cm.

Sumber air yang dibawa oleh Arlindo berasal dari Lautan Pasifik bagian utara dan selatan.  Perairan Selat Makasar dan Laut Flores lebih banyak dipengaruhi oleh massa air laut Pasifik Utara sedangkan Laut Seram dan Halmahera lebih banyak dipengaruhi oleh massa air dari Pasifik Selatan.  Gordon et al. (1994) mengatakan bahwa massa air Pasifik masuk kepulauan Indonesia melalui 2 (dua) jalur utama, yaitu:

1.      Jalur barat dimana massa air masuk melalui Laut Sulawesi dan Basin Makasar. Sebagian massa air akan mengalir melalui Selat Lombok dan berakhir di Lautan Hindia sedangkan sebagian lagi dibelokan ke arah timur terus ke Laut Flores hingga Laut Banda dan kemudian keluar ke Lautan Hindia melalui Laut Timor.

2.      Jalur timur dimana massa air masuk melalui Laut Halmahera dan Laut Maluku terus ke Laut Banda.  Dari Laut Banda, menurut Gordon (1986) dan Gordon et al.,(1994) massa air akan mengalir mengikuti 2 (dua) rute.  Rute utara Pulau Timor melalui Selat Ombai, antara Pulau Alor dan Pulau Timor, masuk ke Laut Sawu dan Selat Rote, sedangkan rute selatan Pulau Timor melalui Basin Timor dan Selat Timor, antara Pulau Rote dan paparan benua Australia.

Struktur massa air perairan Indonesia umumnya dipengaruhi karakteristik massa air Lautan Pasifik dan sistem angin muson. Dimana pada Musim Barat (Desember – Pebruari) bertiup angin muson barat laut di bagian selatan katulistiwa dan timur laut di utara katulistiwa, karakteristik massa air perairan Indonesia umumnya ditandai dengan salinitas yang lebih rendah, sedangkan pada Musim Tmur (Juni – Agustus) bertiup angin muson tenggara di selatan katulistiwa dan barat daya di utara katulistiwa, perairan Indonesia memiliki karakteristik dengan nilai salinitas yang lebih tinggi.

Dengan melihat akan keberadaan perairan Indonesia dimana karena adanya perbedaan pola angin yang secara langsung mempengaruhi pola arus permukaan perairan Indonesia dan perubahan karakteristik massa diduga dapat mengakibatkan terjadinya perubahan terhadap tingkat produktivitas perairan.  Keadaan ini tergantung pada berbagai hal, seperti bagaimana sebaran faktor fisik-kimia perairan.

gambar 1. Skema pendekatan masalah hubungan Arlindo dengan karakteristik massa air dan pengaruhnya di perairan Indonesia.

Selain itu pergerakan arus lintas Indonesia (Arlindo) dapat mempengaruhi perubahan iklim global, memicu kehadiran variabilitas iklim ekstrem, seperti El Nino dan La Nina, serta berdampak pada kondisi pertanian, perikanan, dan kebakaran hutan serta akan gagal panen secara besar-besaran.

Walaupun pada saat terjadinya El Nino terjadi penurunan volume massa air yang bergerak dari Samudra Pasifik ke Samudra Hindia. Kosongnya massa air di wilayah perairan Indonesia tadi kemudian mendorong munculnya up welling dan meningkatkan jumlah klorofil sehingga di perairan Indonesia akan panen ikan.

Upwelling sendiri yaitu naiknya massa air dari bawah permukaan ke atas permukaan, yang juga kaya nutrient. Tingginya produktivitas di laut terbuka yang mengalami upwelling disebabkan karena adanya pengkayaan nutrien pada lapisan permukaan tercampur yang dihasilkan melalui proses pengangkatan massa air dalam. Seperti yang dikemukakan oleh Cullen et al. (1992) bahwa konsentrasi klorofil-a dan laju produktivitas primer meningkat di sekitar ekuator, dimana terjadi aliran nutrien secara vertikal akibat adanya upwelling di daerah divergensi ekuator.

Dengan adanya Upwelling yang kaya akan nutrien secara tidak langsung produktivitas primer perairan tersebut akan meningkat, karena fakto-faktor yang mempengaruhi diantaranya :

  1. cahaya merupakan salah satu faktor yang menentukan distribusi klorofil-a di laut. Di laut lepas, pada lapisan permukaan tercampur tersedia cukup banyak cahaya matahari untuk proses fotosintesa.
  2. Nutrien adalah semua unsur dan senjawa yang dibutuhkan oleh tumbuhan-tumbuhan dan berada dalam bentuk material organik (misalnya amonia, nitrat) dan anorganik terlarut (asam amino). Elemen-elemen nutrien utama yang dibutuhkan dalam jumlah besar adalah karbon, nitrogen, fosfor, oksigen, silikon, magnesium, potassium, dan kalsium, sedangkan nutrien trace element dibutuhkan dalam konsentrasi sangat kecil, yakni besi, copper, dam vanadium (Levinton, 1982).
  3. Suhu dapat mempengaruhi fotosintesa di laut baik secara langsung maupun tidak langsung.  Pengaruh secara langsung yakni suhu berperan untuk mengontrol reaksi kimia enzimatik dalam proses fotosintesa. Tinggi suhu dapat menaikkan laju maksimum fotosintesa (Pmax), sedangkan pengaruh secara tidak langsung yakni dalam merubah struktur hidrologi kolom perairan yang dapat mempengaruhi distribusi fitoplankton.

Beberapa daerah-daerah perairan Indonesia yang mengalami upwelling akibat pengaruh pola angin muson adalah Laut Banda, dan Laut Arafura (Wyrtki, 1961), Selatan Jawa  dan  Bali dan Laut Timor (Tubalawony, 2000).

Ada yang lebih menarik lagi dengan adanya arus lintas Indonesia (ARLINDO) menurut Dr Edvin Aldrian bahwa laut kita merupakan laut yang berpotensi menyerap karbon contohnya di Selat Lombok. Kalau arus permukaan dihitung sebagai emisi karena panas, tetapi di dalam laut tidak seperti itu, karena arus itu tiga dimensi,” katanya

Dengan adanya pergerakan arus lintas Indonesia ini program pemantauan laut Indonesia harus segera digencarkan agar kita mampu memprediksi adanya El Nino dan La Nina serta pengaruh lainnya lebih awal karena peristiwa ini secara langsung dan tidak langsung akan mendatangkan kerugian besar walaupun ada sisi manfaat dan berperan juga.

Kesimpulan :

Jadi, Karaktersitik massa air perairan Indonesia umumnya dipengaruhi oleh sistem angin muson yang bertiup di wilayah Indonesia dan adanya arus lintas Indonesia (arlindo) yang membawa massa air Lautan Pasifik Utara dan Selatan menuju Lautan Hindia.  Pengaruh tersebut mengakibat suhu permukaan perairan Indonesia lebih dingin dengan salinitas yang lebih tinggi sebagai pengaruh terjadinya upwelling di beberapa daerah selama musim timur dan juga akibat dari masuknya massa air Lautan Pasifik, sedangkan pada musim barat, suhu permukaan perairan lebih hangat dengan salinitas yang lebih rendah. Rendahnya salinitas akibat pengaruh massa air dari Indonesia bagian barat yang banyak bermuara sungai-sungai besar.

Selama musim timur, dibeberapa bagian dari perairan Indonesia mengalami upwelling dan percampuran massa air yang mengakibatkan terjadinya pengkayaan nutrien pada lapisan permukaan tercampur dan mengakibatkan tingginya produktivitas primer perairan bila dibandingkan dengan musim barat.

JALESVEVA JAYAMAHE !!!

Referensi :

  • Ø Arus Lintas Indonesia ARLINDO BRKP DKP, Badan Riset dan Observasi Kelautan BROK, Oseanografi’s blog’s.
  • MUKHTAR A.Pi. M.Si , arus-laut-indonesia-juga-serap-karbon.2009
  • Irmudyawati Lamona, Indonesia; Mengapa Laut Kita Istimewa Untuk Interaksi Laut-Atmosfer?.2005
  • Webster, P., V. Magana,T. Palmer et al., 1998. Monsoon: processes, predictability, and the prospects for prediction. J. Geophys. Res. 103, 14451-14510. [4.7].
  • Soesilo, Indroyono. 2004. Survei toponim pulau-pulau dengan satelit. Kompas.
  • MacDonald, 1993. Property fluxes at 300S and their implications for the Pacific-Indian throughflow and the global heat budget. J. Geophys. Res. 98, 6851-6868. [4.7, 6.1]
  • Gordon, Arnold. R.D. Susanto. K. Vranes. 2003. Cool Indonesian throughflow as a consequence of restricted surface layer flow. Nature, 425, 824-828.
  • http://coremap.or.id/downloads/0737.pdf+pengaruh+arus+lintas+indonesia+terhadap+perubahan+iklim+global
  • Cullen, J. J., M. R. Lewis, C. O. Davis, and R. T. Barber, 1992. Photosynthetic Characteristics and Estimated Growth Rates Incate Grazing is the Proximate Control of Primary Production in the Equatorial Pacific. J. Geophys. Res., 97 (C1): 639 – 654.
  • Fieux, M., C. Andrie, E. Charriaud, A. G. Ilahude, N. Metzl, R. Molcard, and J. C. Swallow, 1996 a. Hydrological and Chlorofluoromenthane Measurements of the Indonesian Throughflow Entering the Indian Ocean. J. Geophys. Res., 101 (C5): 12,433 – 12,454.
  • Levinton, J. S., 1982. Marine Ecology. Printice – Hall inc.
  • Wyrtki, K., 1961. Physical Oceanography of the Southeast Asean Waters, NAGA Rep. 2. Scripps Inst. of  Oceanography La jolla, Calif.
  • Tubalawony Simon, PENGARUH FAKTOR-FAKTOR OSEANOGRAFI TERHADAP PRODUKTIVITAS PRIMER PERAIRAN INDONESIA.2001