Dampak Konversi Hutan Mangrove Menjadi tambak dan Lahan Kelapa Sawit

Indonesia mempunyai luas lautan 5,8 km2 dengan jumlah pulau 17.506 dan garis pantai 81.000 km. Selain itu Indonesia juga kaya akan biodiversity dan kekayaan alam laut yang sangat indah baik dari terumbu karang, mangrove, lamun dan biota-biota lautnya. Kekayaan ini sangat lah berpotensial untuk kemajuan Indonesia dari sektor perikanan dan kelautannya, baik itu di lihat dari fungsi ekologis maupun ekonomisnya. Namun pada kenyataannya hasil dan peranannya itu tidak berfungsi pada tempatnya serta masih banyak pihak-pihak yang kurang bertanggung jawab.

Seperti contoh kasus yang terjadi di daerah Sumatera Utara yaitu adanya pengalihan fungsi lahan hutan mangrove menjadi tambak masyarakat dan dikonversi lagi menjadi lahan kelapa sawit. Dengan adanya kasus seperti itu akan banyak terjadi perubahan fungsi lahan baik dari segi ekologis seperti pada rantai makanan, rantai energi dan siklus biogeokimianya juga. Maupun dari segi struktur kimia dan fisikanya. Tapi dalam study kasus ini hanya akan dianalisis dari segi ekologisnya.

Apakah yang menyebabkan keadaan itu terjadi? Padahal masih banyak lahan yang bisa digunakan sesuai fungsi dan tempatnya masing-masing. Apa akibat dengan adanya konversi lahan? Bagaimana seharusnya agar fungsi dan peranan dari hutan mangrove ini bisa pada tempatnya dan lebih optimal serta dengan adanya lahan yang sudah dikonversi fungsinya dapat terus terjaga dan tidak merusak siklus yang ada? Siapakah yang harusnya bertanggung jawab dalam menyelesaikan keadaan seperti ini?

Seperti yang sudah kita ketahui Hutan mangrove atau bakau adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau, terletak pada garis pantai dan dipengaruhi pasang-surut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.

Hutan mangrove mempunyai tiga fungsi utama bagi kelestarian sumber daya, yakni :

  1. Fungsi fisik, hutan mangrove secara fisik menjaga dan menstabilkan garis pantai serta tepian sungai, pelindung terhadap hempasan gelombang dan arus, mempercepat pembentukan lahan baru serta melindungi pantai dari erosi laut/abrasi (green belt).
  2. Fungsi biologis adalah sebagai tempat asuhan (nursery ground), tempat mencari makanan (feeding ground), tempat berkembang biak (spawning ground) dan sebagai penghasil serasah/zat hara yang cukup tinggi produktivitsnya.
  3. Fungsi ekonomi yakni kawasan hutan mangrove berpotensi sebagai tempat rekreasi (ecotourism), lahan pertambakan, dan penghasil devisa dengan produk bahan baku industri. ( Saparinto, Cahyo. 2007)

Fungsi-fungsi di atas sudah banyak sekali penyimpangan karena pihak yang kurang bertanggung jawab, serta kebijakan dan pengelolaan pemerintah yang tidak tegas sehingga sampai saat ini sebagian besar kawasan hutan mangrove itu berada pada kondisi rusak, bahkan  di beberapa daerah sangat memprihatinkan. Kerusakan itu salah satunya disebabkan oleh adanya konversi lahan seperti yang terdapat dalm table di samping. Seperti halnya dalam kasus di Sumatera Utara ini, lahan hutan bakau yang semula hampir 1000 hektar telah diubah penggunaannya menjadi lahan budidaya di tambak dan kemudian diubah lagi menjadi lahan kelapa sawit sebesar 90-110 hektar.

Hal-hal utama yang menjadi permasalahan dan penyebabnya antara lain;

1)     Tekanan penduduk untuk kebutuhan ekonomi yang tinggi sehingga permintaan konversi mangrove juga semakin tinggi. Penduduk disini lebih mementingkan kebutuhannya sendiri-sendiri dibandingkan kepentingan ekologis dan kepedulian akan dampak lingkungan hidup. Banyaknya pihak yang tidak bertanggung jawab juga dengan meminta untuk mengkonversi lahan mangrove tapi setelah dikonversi lahan tersebut mereka tidak menindak lanjutinya. Mereka lebih paham bahwa manfaat dengan dikonversinya hutan mangrove menjadi tambak dan lahan kelapa sawit akan lebih menguntungkan padahal kalau ditinjau secara keuntungan jangka panjang hutan mangrove akan lebih bermanfaat.

2)     Perencanaan dan pengelolaan sumber daya pesisir di masa lalu bersifat sangat sektoral. Dari sini kita mengetahui bahwa pengelolaan yang sektoral ini akan mengakibatkan terjadinya perusakan hutan mangrove berat yang akan berdampak pada masa yang akan datang. Kemudian rendahnya kesadaran masyarakat tentang konversi dan fungsi ekosistem mangrove.

3)     Hutan rawa dalam lingkungan yang asin dan anaerob di daerah pesisir selalu dianggap daerah yang yang marginal atau sama sekali tidak cocok untuk pertanian dan akuakultur. Namun karena kebutuhan lahan pertanian dan perikanan yang semakin meningkat maka hutan mangrove dianggap sebagai lahan alternative. Reklamasi seperti itu telah memusnakan ekosistem mangrove dan juga mengakibatkan efek – efek yang negatif teradap perikanan di perairan pantai sekitarnya. Selain itu kehadiran saluran-saluran drainase mengubah sistem hidrologi air tawar di daerah mangrove yang masih utuh yang terletak kearah laut dan hal ini mengakibatkan dampk negative.

  1. Tambak dalam skala kecil tidak terlalu banyak mempengaruhi ekosistem mangrove, tapi lain halnya dengan skala besar. Konversi mangrove yang luas menjadi tambak dapat mengakibatkan penurunan produksi perikanan  di perairan sekitarnya. Pertambakan ini juga diduga dapat memengaruhi produktivitas perairan estuary dan laut di sekitarnya. Seperti contoh menurunnya produksi udang laut sebagai akibat menciutnya luas hutan mangrove. ( Saparinto, Cahyo. 2007)

Dari permasalahan-permasalahan diatas, secara tidak langsung akan berdampak pada perubahan fungsi lahan dilihat dari segi ekologis seperti pada rantai makanan, rantai energi dan siklus biogeokimianya.

Dampak ekologis secara umum akibat berkurang dan rusaknya ekosistem mangrove adalah hilangnya berbagai spesies flora dan fauna yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove, yang dalam jangka panjang akan mengganggu keseimbangan ekosistem mangrove khususnya dan ekosistem pesisir umumnya. Selain itu, menurunnya kualitas dan kuantitas hutan mangrove telah mengakibatkan dampak yang sangat mengkhawatirkan, seperti abrasi yang selalu meningkat, penurunan tangkapan perikanan pantai, intrusi air laut yang semakin jauh ke arah darat, malaria dan lainnya.

Pada ekosistem mangrove, rantai makanan yang  terjadi adalah rantai makanan  detritus. Sumber utama detritus adalah hasil penguraian guguran daun mangrove yang  jatuh ke perairan oleh bakteri dan fungi (Romimohtarto dan Juwana 1999).

Rantai  makanan detritus dimulai  dari proses penghancuran  luruhan dan ranting mangrove oleh bakteri dan fungi (detritivor) menghasilkan detritus.  Hancuran bahan organic (detritus) ini kemudian menjadi bahan makanan penting (nutrien) bagi  cacing, crustacea, moluska, dan hewan lainnya (Nontji, 1993). Setyawan dkk (2002) menyatakan nutrient di dalam ekosistem mangrove dapat   juga berasal dari luar ekosistem, dari sungai atau laut. Lalu ditambahkan oleh Romimohtarto dan Juwana (1999) yang menyatakan bahwa bakteri dan fungi tadi dimakan oleh sebagian   protozoa dan avertebrata. Kemudian protozoa dan avertebrata dimakan oleh karnivor sedang, yang selanjutnya dimakan oleh karnivor tingkat tinggi. Karena dengan adanya lahan hutan mangrove yang dikonversi ini fauna-fauna baik itu pemangsa maupun yang dimangsa akan berpindah ke lahan yang belum mengalami kerusakan. Contohnya saja spesies monyet dan bangau mungkin tidak aka ada lagi karena spesies ikan yang ada akan berkurang dan habitat mereka telah rusak. Pengaruh bahan-bahan kimia dari pupuk pertanian juga. Secara tidak langsung akan mengubah siklus biogeokimianya karena unsur-unsur yang ada akan berubah dan berkurang.

Ternyata dengan adanya lahan perkebunan kelapa sawit ini tentu saja akan menurunkan tingkat kualitas tanah sebagai salah satu indikator dan pemegang peranan penting didalam ekosistem apalagi dengan semua aspek fungsi ekologis yang dimilikinya. Juga akan terjadi pendangkalan perairan pantai karena pengendapan sedimen yang sebelum hutan mangrove dikonversi mengendap dihutan mangrove. Dengan begitu hutan mangrove yang asalnya tempat pemijahan ikan dan udang secara alami akan beralih fungsi dan bahkan tidak berfungsi lagi sebagai tempat pemijahan. Sebagaimana kita ketahui bahwa lahan tersebut secara struktur akan berubah dan mungkin tercemar oleh bahan-bahan kimia yang berasal dari pupuk pertanian untuk lahan kelapa sawit. Sehingga dengan melihat tingkat degradasi dan konversi pada areal hutan mangrove tersebut maka harus direncanakan suatu penelitian untuk mengetahui dan mengkaji kualitas tanah sebagai akibat dari konversi mangrove yang telah dilakukan. (Anonim, 2009)

Semua ini pun akan berdampak pada segi ekonomis, karena hutan mangrove pada study kasus ini terdapat 2 aliran besar yang membelah mangrove seperti sungai untuk masuk dan keluarnya air pasang surut. Biasanya sungai ini tempat memijah ikan-ikan dan para nelayan pun sering menjaringnya untuk mendapat penghasilan. Tapi dengan adanya pengalihan/konversi menjadi lahan sawit akan menurunkan hasil tangkapan para nelayan tersebut.

Secara global juga akan berdampak pada pemanasan global karena dengan adanya lahan hutan mangrove yang dikonversi akan mengurangi dan merusak ekosistem hutan mangrove tersebut. Penyerapan karbon pun akan berkurang sehingga membuat CO2 di bumi menumpuk dan adanya efek rumah kaca sehingga mengakibatkan pola perubahan iklim dunia yang akan merugikan kita semua.

Dari situ kita tahu bahwa dengan adanya lahan konversi baik itu menjadi tambak atau pun lahan perkebunan kelapa sawit. Ternyata akan merusak ekositem mangrove dan akan mengubah struktur kimia fisika dan fungsi ekologisnya yaitu rantai makanan, rantai energy dan siklus biogeokimianya. Seharusnya kita menyadari dan menyadarkan masyarakat akan fungsi dan peranan masing-masing ekosistem karena untuk ke depannya alam ini akan merugikan kita apabila kita merusaknya. Mungkin secara waktu dekat lahan kelapa sawit akan menguntungkan tapi untuk jangka panjang dan dampak yang ditimbulkan akan merugikan.  persepsi yang menganggap mangrove  merupakan sumber daya yang kurang berguna yang hanya cocok untuk pembuangan sampah atau dikonversi untuk keperluan lain harus diluruskan. Karena apabila persepsi keliru tersebut tidak dikoreksi, maka masa depan hutan mangrove Indonesia dan juga hutan mangrove dunia akan menjadi sangat suram.

Agar rakyat Indonesia tetap mampu menjadikan hutan mangrove sebagai sumber mata pencahariannya, maka perlu pengelolaan secara berkelanjutan. Dasar yang dapat dijadikan pijakan adalah karena pengelolaan SDA hutan mangrove mempunyai tujuan utama untuk menciptakan ekosistem yang produktif dan berkelanjutan untuk menopang berbagai kebutuhan pengelolaannya.

Peran aktif stake holder ini yang sangat dibutuhkan serta dukungan masyarakat agar ekosistem mangrove ini tidak beralih fungsi dan dapat bermanfaat sebagaimana mestinya. Sudah seharusnya dari dalam pemerintah dan masyarakat ini bersama-sama segera mendorong dan memfasilitasi tersusunnya tata ruang wilayah pesisir, melakukan pembenahan dari segala aspek dan dari hal yang kecil agar tidak ada lagi penyimpangan-penyimpangan serta dapat merencanakan,  mengurus, mengelola dan merehabilitasi serta menjaga kelestarian alam ini.  Agar menjadikan kawasan hutan mangrove itu menjadi kawasan yang mampu melindungi dan mensejahterakan masyarakatnya.

JAGALAH LAUT DAN BUMI KITA !
JALESVEVA JAYAMAHE

Salam kelautan …

Satu hati satu tujuan dengan satu nama ilmu kelautan .

NB : Renungan Pasir Pantai

Semakin kau genggam dengan keras apa yang kau harap,,

Semakin mudah harapan itu terlepas …

Seperti halnya pasir pantai yang kau genggam semakin erat,,

Semakin cepat pasir pantai itu terbang dan menghilang …

Bila kamu tetap memegang keras harapan itu,,

Genggam lah harapan yang abadi dan harapan  yang bermanfaat untuk semua…

Layaknya kamu genggam pasir pantai yang terhempas ombak dan berisi air,,

Tak kan hilang walaupun erat kami ikat …

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Mangrove (http://www.blogger.com)

Anonim. 2009. Mengapa perambahan hutan mangrove untuk dialihkan menjadi kebun sawit makin merajalela? (http://id.answers.yahoo.com)

Anonim. 2009. Penilaian Kualitas Tanah Akibat Konversi Mangrove ke Tambak (http://arwansoil.blogspot.com)

Anonim. 2008. Ratusan Ha Hutan Mangrove Beralih Fungsi Menjadi Tanaman Sawitdi Desa Sei Apung Asahan ( http://m.hariansib.com )

Anonim (Sri Devi). 2008. Ekologi, Pemanfaatan dan Dampak Aktivitas Manusia terhadap Ekosistem Mangrove (http://www.analisadaily.com)

Anonim (Hakim Abdul). 2008. Lomba Tulis YPHL : Menyoal Konversi Lahan Hutan di  Indonesia (http://www.kompas.com)

Nontji, A. 1993. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan.Jakarta.

Romimohtarto, K dan S. Juwana, 1999. Biologi Laut. Ilmu Pengetahuan Tentang Biota Laut. Puslitbang Osenologi-LIPI, Jakarta : 527 hal

Saparinto, Cahyo. 2007. Pendayagunaan Ekosistem Mangrove. Dahara Prize, Semarang.

Setyawan, A. Susilowati, A, Sutarno. 2002.  Biodiversitas Genetik, Spesies dan Ekosistem Mangrove di Jawa. Petunjuk Praktikum Biodiversitas; Studi Kasus Mangrove. Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta.

About these ads

2 thoughts on “Dampak Konversi Hutan Mangrove Menjadi tambak dan Lahan Kelapa Sawit

  1. perlu ketegasan pemerintah pusat dong dalam pengalihan hutan mangrove menjadi tambak udang ( tahun 80 an), kemudian menjadi kelapa sawit tahun ( 95 an) jangan dibaiarkan donk, ntar bisa tambah hancur republik ini

    • iah bener sekali pemerintah yang seharusnya lebih bertanggung jawab dlam hai ini. selain itu kebanyakan setelah pengalihan lahan tersebut, lahan kadang-kadang kalau sudah tidak bermanfaat mereka mengabaikannya dan lahan tersebut tidak berfungsi apa-apa. kita sebagai orang yang peduli terhadap lingkungan alangkah baiknya bisa turun langsung dan memberikan pengarahn terhadap masyarakatnya bahawa pentingnya Hutan mangrove itu dari pada menunggu kerja pemerintah yang sangat lamban…terima kasih …:) save our sea n save our earth :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s