EKOSISTEM PADANG LAMUN DI TELUK BANTEN

Firman. 2010. Ekosistem Padang Lamun Di Teluk Banten.

http://firmans08.wordpress.com/2010/03/30/ekosistem-padang-lamun-di-teluk-banten/

Ekosistem padang lamun merupakan ekosistem pesisir yang ditumbuhi oleh lamun(rumput-rumputan laut/seagrass) sebagai vegetasi yang dominan dan  mampu hidup secara permanen di bawah permukaan air laut (Sheppard et al., 1996). Padang lamun ini ditemukan di daerah bersuhu dingin dan daerah tropis memiliki banyak species dibanding daerah bersuhu lebih rendah / 4 musim. Dapat mentoleransi salinitas 24 sampai 35 ppm dan salinitas dapat mempengaruhi lamun terhadap biomasa, produktifitas, kerapatan, lebar daun, kecepatan tumbuh. Semakin tinggi salinitasnya semakin rapat berkembangnya. Hidup di substrat lumpur/pasir pada perairan yang landai(masih bisa hidup pada kedalaman 30 meter) tenang dan terlindung serta sangat tergantung pada cahaya matahari.

Teluk Banten (5055’-605’ LS dan 10605’-106015’BT) dengan kedalaman yang tidak lebih dari 10 m dan dasarnya disusun oleh lumpur dan pasir. Di perairan teluk banten ini ditemukan 7 spesies lamun yaitu Enhalus acoroides, Cymodocea rotundata, C. serrulata, Halodule uninervis, Halophila ovalis, Syringodium isoetifolium, dan ThalassiaHemprichii. Dan dapat diketahui jenis lamun yang dominan di perairan ini adalah Enhalus acoroides.

contoh gambar : Enhalus acoroides

http://budak.blogs.com

Rantai Makanan Pada Ekosistem Padang Lamun

Ekosistem padang lamun di Teluk Banten memiliki produktivitas yang tinggi, sehingga biota-biotanya bervariasi contohnya ; ikan muda seperti ambassis sp yang paling dominan, jenis-jenis moluska, udang, bivalve dan gastropoda serta echinodermata. Dalam sistem rantai makanan khususnya pada daun-daun lamun yang berasosiasi dengan alga kecil yang dikenal dengan periphyton dan epiphytic  dari detritus yang merupakan sumber makanan terpenting bagi hewan-hewan kecil seperti ikan-ikan kecil dan invertebrate kecil contohnya ; beberapa jenis udang, kuda laut, bivalve, gastropoda, dan Echinodermata. Lamun juga mempunyai hubungan ekologis dengan ikan melalui rantai makanan  dari produksi biomasanya. Epiphyte ini dapat tumbuh sangat subur dengan melekat pada permukaan daun lamun dan sangat di senangi oleh udang-udang kecil dan beberapa jenis ikan-ikan kecil.  Disamping itu padang lamun juga dapat melindungi hewan-hewan kecil tadi dari serangan predator. Selain itu, padang lamun diketahui mendukung berbagai jaringan rantai makanan, baik yang didasari oleh rantai herbivor maupun detrivor. Perubahan rantai makanan ini bisa terjadi karena adanya perubahan yang cepat dari perkembangan perubahan makanan oleh predator,dan adanya perubahan musiman terhadap melimpahnya makanan untuk fauna.

Walaupun begitu, sejauh ini belum banyak diketahui bagaimana rantai energi dan nutrien tersebut selanjutnya berperan dalam ekosistem pesisir yang lebih luas.  Selain duyung, manate dan penyu, tidak banyak jenis ikan dan invertebrata yang diketahui memakan daun-daun lamun ini.  Sehingga kemungkinan yang paling besar, lamun ini menyumbang ke dalam ekosistem pantai melalui detritus, yakni serpih-serpih bahan organik (daun, rimpang dll.) yang membusuk yang diangkut arus laut dan menjadi bahan makanan berbagai organisme pemakan detritus (dekomposer). (Nybakken 1988). Dengan kata lain aliran energy di padang lamun itu sendiri terjadi karena adanya proses makan memakan baik itu secara langsung dari daun lamunnya terus di makan konsumen I maupun secara tidak langsung sebagai detritus dimakan oleh konsumen I dan seterusnya. Lamun yang mati akan kehilangan protein dan materi organic lain yang dimakan oleh fauna pada saat permulaan dekomposisi. Struktur karbohidrat diambil dari mikroflora (bakteri dan jamur). Banyak dari metozoa yang dapat mencerna protein bakteri dan serasah daun lamun diekskresi oleh fauna dan bentuk yang belum dicerna akan didekomposisi lagi oleh mikroba decomposer sehingga sumbar detritus akan meningkat.

http://libragirl-impianku.blogspot.com

Tipe interaksi antara ekosistem padang lamun dengan ekosistem mangrovedan terumbu karang (Ogden dan Gladfelter, 1983 dalam Bengen, 2001)

Aliran materi dari padang lamun ke sistem lain (terumbu karang atau mangrove) kecil sekali (NIENHUIS at al .1989). Jumlah materi yang di alirkan ke sistem lain di duga tidak mencapai 10% dari total produksi padang lamun. Dengan kata lain padang lamun ini merupakan sistem yang mandiri (self suistainable system). Namun kemandirian padang lamun tidak meniadakan kehadiran dari kepentingan interaksi biotik dari ekosistem sekitarnya. Sistem dipadang lamun diketahui sebagai suatu habitat untuk ratusan jenis-jenis hewan (NONTJI, 1987; HUTOMO & MARTOSEWOJO. 1977)

Posisi padang lamun tropis yang terletak diantara mangrove dan terumbu karang yang bertindak sebagai daerah penyangga yang baik, mengurangi energi gelombang dan mengalirkan nutrisi ke ekosistem terdekatnya. Tetapi interaksi ekosistem tersebut (mangrove, padang lamun dan terumbu karang) dalam hubungannya dengan degradasi penyangga adalah jelas keterkaitannya. Kerusakan dari salah satu ekosistem dapat menyebabkan akibat jelek pada ekosistem lainnya dalam hubungannya dengan perubahan-perubahan keseimbangan lingkungan dan konsekwensinya akan merubah struktur komunitas keseluruhannya.

Data yang diperoleh mengenai produktifitas padang lamun di teluk banten adalah seperti dibawah ini:

Namun kini daerah padang lamun tersebut semakin menyempit dikarenakan aktivitas manusia seperti reklamasi atau pengurungan pantai untuk pembangunan atau perluasan industri di daerah tersebut yang ternyata menurut data yang kami peroleh telah terjadi pengurangan seluas 25 ha. Sehingga pertumbuhan, produksi ataupun biomasanya akan mengalami penyusutan. Perlu dilakukan usaha-usaha untuk memperkecil penyempitan lahan itu melalui penelitian transplantasi dan restorasi padang lamun.

Di susun oleh :

Abrella Qisthy (230210080035)

Firman Setiawan (230210080057)

Daftar Pustaka

Anonym, 2007. Seagrass deaths in Southern Australia. http://budak.blogs.com

Kiswara W. 1993. Struktur Komunitas Padang Lamun di Perairan Indonesia. Makalah disampaikan pada seminar Ilmiah Nasional Biologi XI, Ujung Pandang 20-21 juli 1993

Kiswara W. 1995. Degradasi Padang Lamun di Teluk Banten: Pengaruhnya terhadap Sumber Daya Perikanan.

Kiswara W. 1999. Perkembangan Penelitian Ekosistem Padang Lamun di Indonesia. Disampaikan pada Seminar Tentang Oseanografi Dalam Rangka Penghargaan kepada Prof. Dr. Apriliani Soegiarto, M.Sc, Puslitbang Oseanografi LIPI Jakarta 1999

Penulis :

Firman Setiawan., Penulis dilahirkan di Bandung pada tanggal 26 Mei 1990 telah menyelesaikan pendidikan menengah atas di SMAN 2 Bandung pada tahun 2008 dan sekarang sedang menempuh studi strata 1 di universitas padjadjaran pogram studi ilmu kelautan. Penulis sangat suka bermain bola, renang, diving..mencari pengalaman dan tantangan baru …SPIRIT OF FREEDOM

Nama

rata-rata

Spesies

pertumbuhan

Produksi

Biomasa

E. acoroides

7,8 mm/hari

3,8 g berat kering/m2/hari

142,2 g berat kering/m2

T. hemprichii

4,5 mm/hari

1,2 g berat kering/m2/hari

8,5 g berat kering/m2

C. serullata

5,0 mm/hari

0,6 g berat kering/m2/hari

3,8 g berat kering/m2

Dampak Konversi Hutan Mangrove Menjadi tambak dan Lahan Kelapa Sawit

Indonesia mempunyai luas lautan 5,8 km2 dengan jumlah pulau 17.506 dan garis pantai 81.000 km. Selain itu Indonesia juga kaya akan biodiversity dan kekayaan alam laut yang sangat indah baik dari terumbu karang, mangrove, lamun dan biota-biota lautnya. Kekayaan ini sangat lah berpotensial untuk kemajuan Indonesia dari sektor perikanan dan kelautannya, baik itu di lihat dari fungsi ekologis maupun ekonomisnya. Namun pada kenyataannya hasil dan peranannya itu tidak berfungsi pada tempatnya serta masih banyak pihak-pihak yang kurang bertanggung jawab.

Seperti contoh kasus yang terjadi di daerah Sumatera Utara yaitu adanya pengalihan fungsi lahan hutan mangrove menjadi tambak masyarakat dan dikonversi lagi menjadi lahan kelapa sawit. Dengan adanya kasus seperti itu akan banyak terjadi perubahan fungsi lahan baik dari segi ekologis seperti pada rantai makanan, rantai energi dan siklus biogeokimianya juga. Maupun dari segi struktur kimia dan fisikanya. Tapi dalam study kasus ini hanya akan dianalisis dari segi ekologisnya.

Apakah yang menyebabkan keadaan itu terjadi? Padahal masih banyak lahan yang bisa digunakan sesuai fungsi dan tempatnya masing-masing. Apa akibat dengan adanya konversi lahan? Bagaimana seharusnya agar fungsi dan peranan dari hutan mangrove ini bisa pada tempatnya dan lebih optimal serta dengan adanya lahan yang sudah dikonversi fungsinya dapat terus terjaga dan tidak merusak siklus yang ada? Siapakah yang harusnya bertanggung jawab dalam menyelesaikan keadaan seperti ini?

Seperti yang sudah kita ketahui Hutan mangrove atau bakau adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau, terletak pada garis pantai dan dipengaruhi pasang-surut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.

Hutan mangrove mempunyai tiga fungsi utama bagi kelestarian sumber daya, yakni :

  1. Fungsi fisik, hutan mangrove secara fisik menjaga dan menstabilkan garis pantai serta tepian sungai, pelindung terhadap hempasan gelombang dan arus, mempercepat pembentukan lahan baru serta melindungi pantai dari erosi laut/abrasi (green belt).
  2. Fungsi biologis adalah sebagai tempat asuhan (nursery ground), tempat mencari makanan (feeding ground), tempat berkembang biak (spawning ground) dan sebagai penghasil serasah/zat hara yang cukup tinggi produktivitsnya.
  3. Fungsi ekonomi yakni kawasan hutan mangrove berpotensi sebagai tempat rekreasi (ecotourism), lahan pertambakan, dan penghasil devisa dengan produk bahan baku industri. ( Saparinto, Cahyo. 2007)

Fungsi-fungsi di atas sudah banyak sekali penyimpangan karena pihak yang kurang bertanggung jawab, serta kebijakan dan pengelolaan pemerintah yang tidak tegas sehingga sampai saat ini sebagian besar kawasan hutan mangrove itu berada pada kondisi rusak, bahkan  di beberapa daerah sangat memprihatinkan. Kerusakan itu salah satunya disebabkan oleh adanya konversi lahan seperti yang terdapat dalm table di samping. Seperti halnya dalam kasus di Sumatera Utara ini, lahan hutan bakau yang semula hampir 1000 hektar telah diubah penggunaannya menjadi lahan budidaya di tambak dan kemudian diubah lagi menjadi lahan kelapa sawit sebesar 90-110 hektar.

Hal-hal utama yang menjadi permasalahan dan penyebabnya antara lain;

1)     Tekanan penduduk untuk kebutuhan ekonomi yang tinggi sehingga permintaan konversi mangrove juga semakin tinggi. Penduduk disini lebih mementingkan kebutuhannya sendiri-sendiri dibandingkan kepentingan ekologis dan kepedulian akan dampak lingkungan hidup. Banyaknya pihak yang tidak bertanggung jawab juga dengan meminta untuk mengkonversi lahan mangrove tapi setelah dikonversi lahan tersebut mereka tidak menindak lanjutinya. Mereka lebih paham bahwa manfaat dengan dikonversinya hutan mangrove menjadi tambak dan lahan kelapa sawit akan lebih menguntungkan padahal kalau ditinjau secara keuntungan jangka panjang hutan mangrove akan lebih bermanfaat.

2)     Perencanaan dan pengelolaan sumber daya pesisir di masa lalu bersifat sangat sektoral. Dari sini kita mengetahui bahwa pengelolaan yang sektoral ini akan mengakibatkan terjadinya perusakan hutan mangrove berat yang akan berdampak pada masa yang akan datang. Kemudian rendahnya kesadaran masyarakat tentang konversi dan fungsi ekosistem mangrove.

3)     Hutan rawa dalam lingkungan yang asin dan anaerob di daerah pesisir selalu dianggap daerah yang yang marginal atau sama sekali tidak cocok untuk pertanian dan akuakultur. Namun karena kebutuhan lahan pertanian dan perikanan yang semakin meningkat maka hutan mangrove dianggap sebagai lahan alternative. Reklamasi seperti itu telah memusnakan ekosistem mangrove dan juga mengakibatkan efek – efek yang negatif teradap perikanan di perairan pantai sekitarnya. Selain itu kehadiran saluran-saluran drainase mengubah sistem hidrologi air tawar di daerah mangrove yang masih utuh yang terletak kearah laut dan hal ini mengakibatkan dampk negative.

  1. Tambak dalam skala kecil tidak terlalu banyak mempengaruhi ekosistem mangrove, tapi lain halnya dengan skala besar. Konversi mangrove yang luas menjadi tambak dapat mengakibatkan penurunan produksi perikanan  di perairan sekitarnya. Pertambakan ini juga diduga dapat memengaruhi produktivitas perairan estuary dan laut di sekitarnya. Seperti contoh menurunnya produksi udang laut sebagai akibat menciutnya luas hutan mangrove. ( Saparinto, Cahyo. 2007)

Dari permasalahan-permasalahan diatas, secara tidak langsung akan berdampak pada perubahan fungsi lahan dilihat dari segi ekologis seperti pada rantai makanan, rantai energi dan siklus biogeokimianya.

Dampak ekologis secara umum akibat berkurang dan rusaknya ekosistem mangrove adalah hilangnya berbagai spesies flora dan fauna yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove, yang dalam jangka panjang akan mengganggu keseimbangan ekosistem mangrove khususnya dan ekosistem pesisir umumnya. Selain itu, menurunnya kualitas dan kuantitas hutan mangrove telah mengakibatkan dampak yang sangat mengkhawatirkan, seperti abrasi yang selalu meningkat, penurunan tangkapan perikanan pantai, intrusi air laut yang semakin jauh ke arah darat, malaria dan lainnya.

Pada ekosistem mangrove, rantai makanan yang  terjadi adalah rantai makanan  detritus. Sumber utama detritus adalah hasil penguraian guguran daun mangrove yang  jatuh ke perairan oleh bakteri dan fungi (Romimohtarto dan Juwana 1999).

Rantai  makanan detritus dimulai  dari proses penghancuran  luruhan dan ranting mangrove oleh bakteri dan fungi (detritivor) menghasilkan detritus.  Hancuran bahan organic (detritus) ini kemudian menjadi bahan makanan penting (nutrien) bagi  cacing, crustacea, moluska, dan hewan lainnya (Nontji, 1993). Setyawan dkk (2002) menyatakan nutrient di dalam ekosistem mangrove dapat   juga berasal dari luar ekosistem, dari sungai atau laut. Lalu ditambahkan oleh Romimohtarto dan Juwana (1999) yang menyatakan bahwa bakteri dan fungi tadi dimakan oleh sebagian   protozoa dan avertebrata. Kemudian protozoa dan avertebrata dimakan oleh karnivor sedang, yang selanjutnya dimakan oleh karnivor tingkat tinggi. Karena dengan adanya lahan hutan mangrove yang dikonversi ini fauna-fauna baik itu pemangsa maupun yang dimangsa akan berpindah ke lahan yang belum mengalami kerusakan. Contohnya saja spesies monyet dan bangau mungkin tidak aka ada lagi karena spesies ikan yang ada akan berkurang dan habitat mereka telah rusak. Pengaruh bahan-bahan kimia dari pupuk pertanian juga. Secara tidak langsung akan mengubah siklus biogeokimianya karena unsur-unsur yang ada akan berubah dan berkurang.

Ternyata dengan adanya lahan perkebunan kelapa sawit ini tentu saja akan menurunkan tingkat kualitas tanah sebagai salah satu indikator dan pemegang peranan penting didalam ekosistem apalagi dengan semua aspek fungsi ekologis yang dimilikinya. Juga akan terjadi pendangkalan perairan pantai karena pengendapan sedimen yang sebelum hutan mangrove dikonversi mengendap dihutan mangrove. Dengan begitu hutan mangrove yang asalnya tempat pemijahan ikan dan udang secara alami akan beralih fungsi dan bahkan tidak berfungsi lagi sebagai tempat pemijahan. Sebagaimana kita ketahui bahwa lahan tersebut secara struktur akan berubah dan mungkin tercemar oleh bahan-bahan kimia yang berasal dari pupuk pertanian untuk lahan kelapa sawit. Sehingga dengan melihat tingkat degradasi dan konversi pada areal hutan mangrove tersebut maka harus direncanakan suatu penelitian untuk mengetahui dan mengkaji kualitas tanah sebagai akibat dari konversi mangrove yang telah dilakukan. (Anonim, 2009)

Semua ini pun akan berdampak pada segi ekonomis, karena hutan mangrove pada study kasus ini terdapat 2 aliran besar yang membelah mangrove seperti sungai untuk masuk dan keluarnya air pasang surut. Biasanya sungai ini tempat memijah ikan-ikan dan para nelayan pun sering menjaringnya untuk mendapat penghasilan. Tapi dengan adanya pengalihan/konversi menjadi lahan sawit akan menurunkan hasil tangkapan para nelayan tersebut.

Secara global juga akan berdampak pada pemanasan global karena dengan adanya lahan hutan mangrove yang dikonversi akan mengurangi dan merusak ekosistem hutan mangrove tersebut. Penyerapan karbon pun akan berkurang sehingga membuat CO2 di bumi menumpuk dan adanya efek rumah kaca sehingga mengakibatkan pola perubahan iklim dunia yang akan merugikan kita semua.

Dari situ kita tahu bahwa dengan adanya lahan konversi baik itu menjadi tambak atau pun lahan perkebunan kelapa sawit. Ternyata akan merusak ekositem mangrove dan akan mengubah struktur kimia fisika dan fungsi ekologisnya yaitu rantai makanan, rantai energy dan siklus biogeokimianya. Seharusnya kita menyadari dan menyadarkan masyarakat akan fungsi dan peranan masing-masing ekosistem karena untuk ke depannya alam ini akan merugikan kita apabila kita merusaknya. Mungkin secara waktu dekat lahan kelapa sawit akan menguntungkan tapi untuk jangka panjang dan dampak yang ditimbulkan akan merugikan.  persepsi yang menganggap mangrove  merupakan sumber daya yang kurang berguna yang hanya cocok untuk pembuangan sampah atau dikonversi untuk keperluan lain harus diluruskan. Karena apabila persepsi keliru tersebut tidak dikoreksi, maka masa depan hutan mangrove Indonesia dan juga hutan mangrove dunia akan menjadi sangat suram.

Agar rakyat Indonesia tetap mampu menjadikan hutan mangrove sebagai sumber mata pencahariannya, maka perlu pengelolaan secara berkelanjutan. Dasar yang dapat dijadikan pijakan adalah karena pengelolaan SDA hutan mangrove mempunyai tujuan utama untuk menciptakan ekosistem yang produktif dan berkelanjutan untuk menopang berbagai kebutuhan pengelolaannya.

Peran aktif stake holder ini yang sangat dibutuhkan serta dukungan masyarakat agar ekosistem mangrove ini tidak beralih fungsi dan dapat bermanfaat sebagaimana mestinya. Sudah seharusnya dari dalam pemerintah dan masyarakat ini bersama-sama segera mendorong dan memfasilitasi tersusunnya tata ruang wilayah pesisir, melakukan pembenahan dari segala aspek dan dari hal yang kecil agar tidak ada lagi penyimpangan-penyimpangan serta dapat merencanakan,  mengurus, mengelola dan merehabilitasi serta menjaga kelestarian alam ini.  Agar menjadikan kawasan hutan mangrove itu menjadi kawasan yang mampu melindungi dan mensejahterakan masyarakatnya.

JAGALAH LAUT DAN BUMI KITA !
JALESVEVA JAYAMAHE

Salam kelautan …

Satu hati satu tujuan dengan satu nama ilmu kelautan .

NB : Renungan Pasir Pantai

Semakin kau genggam dengan keras apa yang kau harap,,

Semakin mudah harapan itu terlepas …

Seperti halnya pasir pantai yang kau genggam semakin erat,,

Semakin cepat pasir pantai itu terbang dan menghilang …

Bila kamu tetap memegang keras harapan itu,,

Genggam lah harapan yang abadi dan harapan  yang bermanfaat untuk semua…

Layaknya kamu genggam pasir pantai yang terhempas ombak dan berisi air,,

Tak kan hilang walaupun erat kami ikat …

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Mangrove (http://www.blogger.com)

Anonim. 2009. Mengapa perambahan hutan mangrove untuk dialihkan menjadi kebun sawit makin merajalela? (http://id.answers.yahoo.com)

Anonim. 2009. Penilaian Kualitas Tanah Akibat Konversi Mangrove ke Tambak (http://arwansoil.blogspot.com)

Anonim. 2008. Ratusan Ha Hutan Mangrove Beralih Fungsi Menjadi Tanaman Sawitdi Desa Sei Apung Asahan ( http://m.hariansib.com )

Anonim (Sri Devi). 2008. Ekologi, Pemanfaatan dan Dampak Aktivitas Manusia terhadap Ekosistem Mangrove (http://www.analisadaily.com)

Anonim (Hakim Abdul). 2008. Lomba Tulis YPHL : Menyoal Konversi Lahan Hutan di  Indonesia (http://www.kompas.com)

Nontji, A. 1993. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan.Jakarta.

Romimohtarto, K dan S. Juwana, 1999. Biologi Laut. Ilmu Pengetahuan Tentang Biota Laut. Puslitbang Osenologi-LIPI, Jakarta : 527 hal

Saparinto, Cahyo. 2007. Pendayagunaan Ekosistem Mangrove. Dahara Prize, Semarang.

Setyawan, A. Susilowati, A, Sutarno. 2002.  Biodiversitas Genetik, Spesies dan Ekosistem Mangrove di Jawa. Petunjuk Praktikum Biodiversitas; Studi Kasus Mangrove. Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta.

Pengaruh dan Hubungan ARLINDO (Arus Lintas Indonesia) dengan Karakteristik massa Air


Masih ingatkah kita sewaktu SD sampai SMA pada pelajaran geografi selalu dicekoki dengan doktrin keistimewaan posisi geografis Indonesia yang diapit dua benua besar yaitu Benua Asia dan Benua Australia.Selain itu diapit dua Lautan besar yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Posisi Indonesia juga terletak di antara garis ekuator yang memiliki iklim tropis dan radiasi matahari paling banyak diserap. Selain itu juga perairan Indonesia ini sangat unik karena adanya arus lintas Indonesia (ARLINDO) atau Indonesian througflow. Ini merupakan keistimewaan sendiri karena arus laut Indonesia ini sebagai pertukaran antar samudera. Secara lengkap dan pengaruh-pengaruhnya akan dijelaskan sebagai berikutnya.

Arlindo adalah suatu sistem di perairan Indonesia di mana terjadi lintasan arus yang membawa massa air dari Lautan Pasifik ke Lautan Hindia. Massa air Pasifik tersebut terdiri atas massa air Pasifik Utara dan Pasifik Selatan (Wyrtki, 1961; Fieux et al., 1996a).  Terjadinya arlindo terutama disebabkan oleh bertiupnya angin pasat tenggara di bagian selatan Pasifik dari wilayah Indonesia.  Angin tersebut mengakibatkan permukaan bagian tropik Lautan Pasifik Barat lebih tinggi dari pada Lautan Hindia bagian timur.  Hasilnya terjadinya gradien tekanan yang mengakibatkan mengalirnya arus dari Lautan Pasifik ke Lautan Hindia.  Arus lintas Indonesia selama Muson Tenggara umumnya lebih kuat dari pada di Muson Barat Laut. Webster et al. (1998) menyatakan bahwa aliran bahang Arlindo’…adalah dapat dibandingkan terhadap aliran bersih permukaan di utara samudra Hindia dan sejumlah fraksi substansial dari aliran bahangnya’. Beberapa hasil model penelitian mengungkapkan ketergantungan suhu permukaan dan simpanan bahang permukaan samudra Pasifik dan Hindia terhadap arus lintas ini. Kedua samudra tersebut akan sangat berbeda jika tanpa Arlindo (MacDonald, 1993). Ketiadaan Arlindo akan meningkatkan permukaan laut di Pasifik dan menurunkannya di Hindia sebanyak 2-10 cm.

Sumber air yang dibawa oleh Arlindo berasal dari Lautan Pasifik bagian utara dan selatan.  Perairan Selat Makasar dan Laut Flores lebih banyak dipengaruhi oleh massa air laut Pasifik Utara sedangkan Laut Seram dan Halmahera lebih banyak dipengaruhi oleh massa air dari Pasifik Selatan.  Gordon et al. (1994) mengatakan bahwa massa air Pasifik masuk kepulauan Indonesia melalui 2 (dua) jalur utama, yaitu:

1.      Jalur barat dimana massa air masuk melalui Laut Sulawesi dan Basin Makasar. Sebagian massa air akan mengalir melalui Selat Lombok dan berakhir di Lautan Hindia sedangkan sebagian lagi dibelokan ke arah timur terus ke Laut Flores hingga Laut Banda dan kemudian keluar ke Lautan Hindia melalui Laut Timor.

2.      Jalur timur dimana massa air masuk melalui Laut Halmahera dan Laut Maluku terus ke Laut Banda.  Dari Laut Banda, menurut Gordon (1986) dan Gordon et al.,(1994) massa air akan mengalir mengikuti 2 (dua) rute.  Rute utara Pulau Timor melalui Selat Ombai, antara Pulau Alor dan Pulau Timor, masuk ke Laut Sawu dan Selat Rote, sedangkan rute selatan Pulau Timor melalui Basin Timor dan Selat Timor, antara Pulau Rote dan paparan benua Australia.

Struktur massa air perairan Indonesia umumnya dipengaruhi karakteristik massa air Lautan Pasifik dan sistem angin muson. Dimana pada Musim Barat (Desember – Pebruari) bertiup angin muson barat laut di bagian selatan katulistiwa dan timur laut di utara katulistiwa, karakteristik massa air perairan Indonesia umumnya ditandai dengan salinitas yang lebih rendah, sedangkan pada Musim Tmur (Juni – Agustus) bertiup angin muson tenggara di selatan katulistiwa dan barat daya di utara katulistiwa, perairan Indonesia memiliki karakteristik dengan nilai salinitas yang lebih tinggi.

Dengan melihat akan keberadaan perairan Indonesia dimana karena adanya perbedaan pola angin yang secara langsung mempengaruhi pola arus permukaan perairan Indonesia dan perubahan karakteristik massa diduga dapat mengakibatkan terjadinya perubahan terhadap tingkat produktivitas perairan.  Keadaan ini tergantung pada berbagai hal, seperti bagaimana sebaran faktor fisik-kimia perairan.

gambar 1. Skema pendekatan masalah hubungan Arlindo dengan karakteristik massa air dan pengaruhnya di perairan Indonesia.

Selain itu pergerakan arus lintas Indonesia (Arlindo) dapat mempengaruhi perubahan iklim global, memicu kehadiran variabilitas iklim ekstrem, seperti El Nino dan La Nina, serta berdampak pada kondisi pertanian, perikanan, dan kebakaran hutan serta akan gagal panen secara besar-besaran.

Walaupun pada saat terjadinya El Nino terjadi penurunan volume massa air yang bergerak dari Samudra Pasifik ke Samudra Hindia. Kosongnya massa air di wilayah perairan Indonesia tadi kemudian mendorong munculnya up welling dan meningkatkan jumlah klorofil sehingga di perairan Indonesia akan panen ikan.

Upwelling sendiri yaitu naiknya massa air dari bawah permukaan ke atas permukaan, yang juga kaya nutrient. Tingginya produktivitas di laut terbuka yang mengalami upwelling disebabkan karena adanya pengkayaan nutrien pada lapisan permukaan tercampur yang dihasilkan melalui proses pengangkatan massa air dalam. Seperti yang dikemukakan oleh Cullen et al. (1992) bahwa konsentrasi klorofil-a dan laju produktivitas primer meningkat di sekitar ekuator, dimana terjadi aliran nutrien secara vertikal akibat adanya upwelling di daerah divergensi ekuator.

Dengan adanya Upwelling yang kaya akan nutrien secara tidak langsung produktivitas primer perairan tersebut akan meningkat, karena fakto-faktor yang mempengaruhi diantaranya :

  1. cahaya merupakan salah satu faktor yang menentukan distribusi klorofil-a di laut. Di laut lepas, pada lapisan permukaan tercampur tersedia cukup banyak cahaya matahari untuk proses fotosintesa.
  2. Nutrien adalah semua unsur dan senjawa yang dibutuhkan oleh tumbuhan-tumbuhan dan berada dalam bentuk material organik (misalnya amonia, nitrat) dan anorganik terlarut (asam amino). Elemen-elemen nutrien utama yang dibutuhkan dalam jumlah besar adalah karbon, nitrogen, fosfor, oksigen, silikon, magnesium, potassium, dan kalsium, sedangkan nutrien trace element dibutuhkan dalam konsentrasi sangat kecil, yakni besi, copper, dam vanadium (Levinton, 1982).
  3. Suhu dapat mempengaruhi fotosintesa di laut baik secara langsung maupun tidak langsung.  Pengaruh secara langsung yakni suhu berperan untuk mengontrol reaksi kimia enzimatik dalam proses fotosintesa. Tinggi suhu dapat menaikkan laju maksimum fotosintesa (Pmax), sedangkan pengaruh secara tidak langsung yakni dalam merubah struktur hidrologi kolom perairan yang dapat mempengaruhi distribusi fitoplankton.

Beberapa daerah-daerah perairan Indonesia yang mengalami upwelling akibat pengaruh pola angin muson adalah Laut Banda, dan Laut Arafura (Wyrtki, 1961), Selatan Jawa  dan  Bali dan Laut Timor (Tubalawony, 2000).

Ada yang lebih menarik lagi dengan adanya arus lintas Indonesia (ARLINDO) menurut Dr Edvin Aldrian bahwa laut kita merupakan laut yang berpotensi menyerap karbon contohnya di Selat Lombok. Kalau arus permukaan dihitung sebagai emisi karena panas, tetapi di dalam laut tidak seperti itu, karena arus itu tiga dimensi,” katanya

Dengan adanya pergerakan arus lintas Indonesia ini program pemantauan laut Indonesia harus segera digencarkan agar kita mampu memprediksi adanya El Nino dan La Nina serta pengaruh lainnya lebih awal karena peristiwa ini secara langsung dan tidak langsung akan mendatangkan kerugian besar walaupun ada sisi manfaat dan berperan juga.

Kesimpulan :

Jadi, Karaktersitik massa air perairan Indonesia umumnya dipengaruhi oleh sistem angin muson yang bertiup di wilayah Indonesia dan adanya arus lintas Indonesia (arlindo) yang membawa massa air Lautan Pasifik Utara dan Selatan menuju Lautan Hindia.  Pengaruh tersebut mengakibat suhu permukaan perairan Indonesia lebih dingin dengan salinitas yang lebih tinggi sebagai pengaruh terjadinya upwelling di beberapa daerah selama musim timur dan juga akibat dari masuknya massa air Lautan Pasifik, sedangkan pada musim barat, suhu permukaan perairan lebih hangat dengan salinitas yang lebih rendah. Rendahnya salinitas akibat pengaruh massa air dari Indonesia bagian barat yang banyak bermuara sungai-sungai besar.

Selama musim timur, dibeberapa bagian dari perairan Indonesia mengalami upwelling dan percampuran massa air yang mengakibatkan terjadinya pengkayaan nutrien pada lapisan permukaan tercampur dan mengakibatkan tingginya produktivitas primer perairan bila dibandingkan dengan musim barat.

JALESVEVA JAYAMAHE !!!

Referensi :

  • Ø Arus Lintas Indonesia ARLINDO BRKP DKP, Badan Riset dan Observasi Kelautan BROK, Oseanografi’s blog’s.
  • MUKHTAR A.Pi. M.Si , arus-laut-indonesia-juga-serap-karbon.2009
  • Irmudyawati Lamona, Indonesia; Mengapa Laut Kita Istimewa Untuk Interaksi Laut-Atmosfer?.2005
  • Webster, P., V. Magana,T. Palmer et al., 1998. Monsoon: processes, predictability, and the prospects for prediction. J. Geophys. Res. 103, 14451-14510. [4.7].
  • Soesilo, Indroyono. 2004. Survei toponim pulau-pulau dengan satelit. Kompas.
  • MacDonald, 1993. Property fluxes at 300S and their implications for the Pacific-Indian throughflow and the global heat budget. J. Geophys. Res. 98, 6851-6868. [4.7, 6.1]
  • Gordon, Arnold. R.D. Susanto. K. Vranes. 2003. Cool Indonesian throughflow as a consequence of restricted surface layer flow. Nature, 425, 824-828.
  • http://coremap.or.id/downloads/0737.pdf+pengaruh+arus+lintas+indonesia+terhadap+perubahan+iklim+global
  • Cullen, J. J., M. R. Lewis, C. O. Davis, and R. T. Barber, 1992. Photosynthetic Characteristics and Estimated Growth Rates Incate Grazing is the Proximate Control of Primary Production in the Equatorial Pacific. J. Geophys. Res., 97 (C1): 639 – 654.
  • Fieux, M., C. Andrie, E. Charriaud, A. G. Ilahude, N. Metzl, R. Molcard, and J. C. Swallow, 1996 a. Hydrological and Chlorofluoromenthane Measurements of the Indonesian Throughflow Entering the Indian Ocean. J. Geophys. Res., 101 (C5): 12,433 – 12,454.
  • Levinton, J. S., 1982. Marine Ecology. Printice – Hall inc.
  • Wyrtki, K., 1961. Physical Oceanography of the Southeast Asean Waters, NAGA Rep. 2. Scripps Inst. of  Oceanography La jolla, Calif.
  • Tubalawony Simon, PENGARUH FAKTOR-FAKTOR OSEANOGRAFI TERHADAP PRODUKTIVITAS PRIMER PERAIRAN INDONESIA.2001